Pertumbuhan Ekonomi Sulsel 5,78% di Tengah Ancaman Global, BI: Saatnya Perluas Pasar Non-Tradisional

Mardianto
15 Mei 2025 14:25
3 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Potensi berlanjutnya perang dagang global pasca kemenangan kembali Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran fragmentasi ekonomi dunia.

Kebijakan proteksionisme “America First” diperkirakan menekan arus perdagangan internasional, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 melambat ke level 2,9%.

Provinsi Sulawesi Selatan yang terintegrasi dalam rantai pasok ekspor global kini menghadapi risiko spillover, khususnya akibat perlambatan ekonomi Tiongkok dan Jepang, dua mitra dagang utama Sulsel dengan kontribusi masing-masing 33,8% dan 48,8% terhadap ekspor daerah.

Menanggapi kondisi tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi kebijakan Sulsel Talk edisi Mei 2025 bertema “Ekonomi Sulsel di Pusaran Perang Dagang Global 2.0: Menakar Risiko, Menjemput Peluang.”

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber kunci, masing-masing Rizki Ernadi Wimanda (Kepala Perwakilan BI Sulsel), Mochammad Muchlasin (Kepala OJK Sulselbar), serta Dr. Aviliani (Ekonom Senior INDEF). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman.

Dalam sambutannya, Jufri menyatakan bahwa meskipun tekanan eksternal meningkat, ekonomi Sulsel tetap tumbuh solid pada triwulan I 2025 sebesar 5,78% (yoy), melampaui rata-rata nasional 4,87%.

“Di tengah gejolak global, ekonomi Sulsel menunjukkan ketangguhan dengan pertumbuhan 5,78% (yoy) pada triwulan I 2025, melebihi capaian nasional sebesar 4,87%,” kata Jufri.

Ia mendorong kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah melalui diversifikasi pasar ekspor, khususnya ke kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.

Rizki Ernadi Wimanda menegaskan bahwa risiko ekonomi global saat ini mencakup ketegangan geopolitik, fluktuasi suku bunga global, serta pelemahan permintaan dari Tiongkok dan AS.

“Ekspor Sulsel masih terkonsentrasi pada komoditas mentah. Perlu peningkatan hilirisasi dan perluasan pasar ekspor ke kawasan non-tradisional,” jelas Rizki.

Namun, sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan antar daerah menopang resiliensi ekonomi Sulsel. Ia menekankan urgensi penguatan daya saing ekspor dan perluasan pasar melalui kerja sama strategis, seperti IA-CEPA dengan Australia.

“Sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan antar daerah menjadi tulang punggung daya tahan ekonomi Sulsel saat ini. Tetapi kita tidak boleh puas diri. Hilirisasi dan ekspansi pasar ekspor ke kawasan non-tradisional harus menjadi prioritas,” tegas Rizki.

Senada, Dr. Aviliani menyoroti bahwa proteksionisme AS menjadi tantangan struktural bagi negara berkembang. Ia menyarankan Sulsel mengoptimalkan komoditas unggulan seperti kakao, minyak sawit, dan energi terbarukan untuk membangun basis industrialisasi lokal.

Ia juga menekankan pentingnya strategi inclusive closed loop untuk memperkuat UMKM dalam rantai nilai global.

“Ekspor bahan mentah tidak bisa lagi diandalkan. Sulsel memiliki potensi menjadi pusat produksi bernilai tambah berbasis komoditas. Penerapan strategi inclusive closed loop penting agar UMKM bisa masuk dalam rantai pasok global,” ujar Aviliani.

Dari sisi pembiayaan, Kepala OJK Sulselbar Mochammad Muchlasin melaporkan bahwa stabilitas sektor keuangan daerah tetap terjaga.

“OJK terus mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui program Elektronifikasi Keuangan Inklusif (EKI) dan Ekosistem Pembiayaan Inklusif dan Syariah (EPIKS), guna memperkuat kapasitas pembiayaan UMKM potensial ekspor,” kata Muchlasin.

Kredit produktif mendominasi penyaluran kredit dengan porsi 53,92%, terutama di sektor perdagangan besar dan eceran (22,94%).

Kredit UMKM tumbuh moderat 1,14% (yoy), didorong oleh segmen kecil dan menengah. Ia juga menegaskan pentingnya program inklusi keuangan seperti EKI dan EPIKS untuk memperluas akses permodalan UMKM ekspor.

BI Sulsel berharap, lewat forum ini, pihaknya dapat merumuskan rekomendasi kebijakan konkret untuk meningkatkan daya tahan ekonomi daerah di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x