Perkuat Kolaborasi Restorasi Lahan Pascatambang, Fakultas Pertanian dan Teknik Pertambangan Jalin Kerja Sama

Mardianto
19 Okt 2026 10:56
8 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Upaya pemulihan lingkungan pascatambang membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari pengelolaan sumber daya mineral hingga pemulihan kesuburan tanah dan ekosistem. Semangat tersebut menjadi landasan dalam agenda penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian yang berlangsung pada Jumat (16/10/2026), di Aula Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang, Lantai 8, Gedung 1 Universitas Bosowa (Unibos).

Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat sinergi akademik dalam pengembangan teknologi reklamasi, revegetasi, penelitian bersama, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemulihan lingkungan di kawasan pertambangan.

Melalui kolaborasi tersebut, kedua fakultas diharapkan dapat mempertemukan keahlian di bidang pertambangan dan pertanian untuk menghadirkan pendekatan yang lebih terpadu dalam pengelolaan lahan pascatambang.

Dekan Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang, Dr. Amirudin, S.P., M.P., dalam sambutannya menegaskan bahwa penandatanganan MoA tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai langkah awal membangun kerja sama yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

“MoA ini bukan sekadar seremoni tanda tangan. Ini adalah jembatan yang menghubungkan dua kekuatan besar,” ungkapnya.

Menurutnya, Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian memiliki keahlian dalam pengelolaan sumber daya bumi, sementara Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang memiliki kompetensi yang dapat berkontribusi dalam proses pemulihan kondisi tanah dan lingkungan setelah kegiatan pertambangan berlangsung. Kedua bidang keilmuan tersebut dinilai memiliki keterkaitan yang erat, khususnya dalam menjawab tantangan pengelolaan lingkungan pada kawasan yang telah mengalami perubahan akibat aktivitas pertambangan.

Dalam sambutannya, Dr. Amirudin juga menyoroti bahwa salah satu pekerjaan penting setelah kegiatan pertambangan adalah memastikan lahan yang telah dimanfaatkan dapat dipulihkan melalui pendekatan ilmiah dan teknologi yang sesuai. Lahan pascatambang dapat menghadapi berbagai tantangan, seperti menurunnya kualitas tanah, perubahan kondisi fisik lahan, terbatasnya unsur hara, hingga terganggunya fungsi ekosistem. Kondisi tersebut membutuhkan upaya pemulihan yang direncanakan secara berkelanjutan.

Karena itu, kerja sama lintas disiplin menjadi penting untuk mempertemukan pemahaman mengenai karakteristik lahan pertambangan dengan pendekatan pertanian, ilmu tanah, dan pengembangan vegetasi.

“Fakultas Pertanian hadir bukan untuk menghakimi tambang, tetapi untuk menjadi solusinya,” tegas Dr. Amirudin.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan kolaboratif yang ingin dibangun melalui MoA, yakni menempatkan ilmu pertanian sebagai bagian dari solusi terhadap tantangan lingkungan yang muncul dalam kegiatan pertambangan.

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian Universitas Bosowa, Dr. Andi Ilham Samanlangi, S.T., M.T., menyambut baik kerja sama antarfakultas tersebut. Ia memandang kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk mempertemukan keahlian di bidang pertambangan dengan kompetensi pertanian dan restorasi lahan dalam menjawab tantangan pemulihan lingkungan pascatambang.

Menurutnya, pengelolaan sumber daya mineral perlu disertai perhatian terhadap kondisi lahan dan keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, sinergi antara bidang pertambangan, ilmu tanah, dan pengembangan vegetasi menjadi penting dalam merumuskan pendekatan pemulihan yang sesuai dengan karakteristik lahan serta kebutuhan di lapangan.

Ia juga menyambut kolaborasi tersebut sebagai kesempatan bagi kedua fakultas untuk saling melengkapi kompetensi, memperluas ruang penelitian, dan mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan lahan pascatambang. Melalui kerja sama ini, potensi keilmuan yang dimiliki masing-masing fakultas diharapkan dapat diarahkan pada pengembangan metode reklamasi dan revegetasi yang lebih terencana, terukur, dan berkelanjutan.

“Pada prinsipnya, kami menyambut baik kolaborasi ini. Kami percaya bahwa pemulihan lahan pascatambang membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Keahlian di bidang pertambangan perlu dipadukan dengan ilmu pertanian, ilmu tanah, dan teknologi revegetasi agar upaya pemulihan lingkungan dapat direncanakan secara lebih komprehensif,” demikian draf pernyataan yang perlu dikonfirmasi kepada Dr. Andi Ilham Samanlangi sebelum dipublikasikan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama tidak cukup diukur dari terlaksananya penandatanganan dokumen, tetapi juga dari konsistensi kedua pihak dalam merealisasikan program bersama. Karena itu, tindak lanjut melalui penelitian kolaboratif, praktikum lapangan, pengembangan teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pelaksanaan kesepakatan tersebut.

“Kerja sama ini harus kita tindak lanjuti dengan program yang terukur dan berkelanjutan. Kami ingin sinergi ini menghasilkan kegiatan nyata, memperkuat kompetensi mahasiswa, serta memberikan kontribusi terhadap pengelolaan dan pemulihan lingkungan di kawasan pertambangan,” demikian draf penegasan yang perlu dikonfirmasi kepada beliau.

Salah satu fokus utama kerja sama adalah pengembangan teknologi reklamasi dan revegetasi lahan pascatambang. Reklamasi menjadi bagian penting dalam upaya menata dan memperbaiki kondisi lahan yang telah terganggu, sedangkan revegetasi diarahkan pada penanaman kembali vegetasi yang sesuai dengan karakteristik tanah dan kondisi lingkungan setempat. Kedua pendekatan tersebut saling berkaitan dalam mendukung pemulihan fungsi lahan dan menciptakan kondisi yang lebih memungkinkan bagi pertumbuhan tanaman.

Melalui kerja sama ini, keahlian dari kedua fakultas diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan metode pemulihan yang mempertimbangkan kondisi fisik, kimia, dan biologis tanah pascatambang.

Selain reklamasi dan revegetasi, kolaborasi juga diarahkan pada riset pemanfaatan pupuk hayati dan kompos untuk perbaikan kualitas tanah tambang. Pemanfaatan bahan organik dan mikroorganisme yang bermanfaat menjadi salah satu pendekatan yang dapat diteliti untuk mendukung perbaikan kondisi tanah, khususnya pada lahan yang mengalami penurunan kesuburan akibat perubahan struktur dan karakteristik tanah.

Melalui penelitian bersama, kedua fakultas memiliki kesempatan untuk mengkaji kesesuaian berbagai metode perbaikan tanah berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan pemulihan di lapangan. Pengembangan riset tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi yang relevan dengan tantangan pengelolaan lingkungan pada kawasan pertambangan.

Dalam konteks ini, Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang dapat berkontribusi melalui keahlian di bidang ilmu tanah, kesuburan tanah, pengelolaan bahan organik, dan pengembangan tanaman, sementara Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian berperan melalui pemahaman mengenai karakteristik kawasan pertambangan serta aspek teknis pengelolaan lahan. Pertemuan kedua bidang keilmuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pendekatan pemulihan lingkungan yang lebih menyeluruh.

Dr. Amirudin juga menyampaikan harapannya agar kerja sama yang dibangun dapat diarahkan pada kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pada wilayah pertambangan di Sulawesi Tenggara. Wilayah tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kolaborasi karena memiliki kawasan pertambangan yang dapat menjadi ruang kajian dan penerapan pendekatan pemulihan lahan sesuai kebutuhan serta kondisi setempat.

Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian bersama, dosen dan mahasiswa diharapkan dapat terlibat dalam mengidentifikasi persoalan lingkungan, mengembangkan gagasan pemulihan, serta mengkaji penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kerja sama karena memberikan kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di ruang kelas dengan persoalan nyata yang dihadapi di lapangan.

Pengalaman tersebut juga dapat memperluas pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara kegiatan pertambangan, pengelolaan sumber daya alam, serta tanggung jawab pemulihan lingkungan.

Selain memberikan manfaat akademik, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang saling terintegrasi. Pada bidang pendidikan, kerja sama dapat diwujudkan melalui kegiatan praktikum bersama yang mempertemukan mahasiswa dari kedua disiplin ilmu untuk mempelajari persoalan pemulihan lahan secara langsung.

Pada bidang penelitian, kolaborasi dapat diarahkan pada pengembangan kajian mengenai reklamasi, revegetasi, kesuburan tanah, serta pemanfaatan bahan organik dan teknologi hayati untuk mendukung pemulihan lingkungan. Sementara itu, pada bidang pengabdian kepada masyarakat, kerja sama diharapkan dapat menghasilkan kegiatan pendampingan maupun penerapan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan pertambangan.

Dr. Amirudin menekankan pentingnya menerjemahkan kesepakatan kelembagaan menjadi kegiatan yang dapat dilaksanakan secara nyata.

“Saya berharap MoA ini segera kita turunkan menjadi aksi nyata: joint research, praktikum bersama, dan pengabdian di lapangan,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan kerja sama tidak hanya ditentukan oleh penandatanganan dokumen, tetapi juga oleh kesinambungan program yang dikembangkan setelah kesepakatan terbentuk. Sejalan dengan itu, komitmen kedua fakultas untuk mengembangkan kegiatan bersama diharapkan menjadi landasan bagi pelaksanaan kolaborasi yang konsisten dan memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pemulihan lingkungan.

Kolaborasi antara Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Kebumian diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran keahlian sekaligus pengembangan inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Melalui pendekatan lintas disiplin, persoalan lahan pascatambang dapat dikaji dari berbagai aspek, mulai dari kondisi geologi dan teknis pertambangan hingga karakteristik tanah, kemampuan pertumbuhan tanaman, dan potensi pemulihan ekosistem.

Sinergi tersebut juga membuka peluang pengembangan penelitian terapan yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan lingkungan pada kawasan pertambangan. Lebih jauh, kerja sama ini memperlihatkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan pembangunan dan lingkungan.

Kegiatan pertambangan memiliki peran dalam pemanfaatan sumber daya alam, tetapi pada saat yang sama membutuhkan perhatian terhadap pengelolaan dampak lingkungan dan pemulihan lahan. Karena itu, pengembangan teknologi reklamasi dan revegetasi menjadi salah satu bidang yang memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu secara berkelanjutan.

Melalui penandatanganan MoA ini, kedua fakultas diharapkan dapat membangun langkah kolaboratif yang lebih terarah, mulai dari penyusunan agenda penelitian, pengembangan kegiatan akademik bersama, hingga pelaksanaan program pengabdian yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Kerja sama tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pengembangan keilmuan dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dalam penutup sambutannya, Dr. Amirudin menyampaikan harapan agar kolaborasi yang dibangun dapat memberikan manfaat luas bagi lingkungan dan masyarakat. Harapan tersebut menjadi pesan penting bahwa kerja sama akademik tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kegiatan dan publikasi ilmiah, tetapi juga untuk mendorong pemanfaatan pengetahuan dalam menjawab tantangan nyata.

Melalui sinergi keilmuan pertanian dan pertambangan, kedua fakultas diharapkan dapat berkontribusi dalam mengembangkan pendekatan pemulihan lahan yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Sebab pemanfaatan sumber daya alam perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan memulihkan lingkungan. Di sinilah kolaborasi akademik memiliki peran penting, yakni mempertemukan pengetahuan, keahlian, dan kepedulian untuk menghadirkan solusi yang memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x