

Kabareditorial.com, Makassar — Universitas Patria Artha (UPA) melalui Assessment Center menggelar uji kompetensi kegawatdaruratan bagi mahasiswa bidang kesehatan, Rabu (28/01/2026). Kegiatan ini merupakan rangkaian asesmen kompetensi yang berlangsung pada 19–21 serta dilanjutkan pada 26–28, dengan melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan.
Direktur Assessment Center UPA, Indri Septiani, menjelaskan bahwa uji kompetensi ini bukan sekadar kegiatan harian, melainkan bagian dari program terstruktur universitas untuk memastikan kesiapan lulusan sebelum terjun ke masyarakat dan dunia kerja.
“Ini adalah kegiatan asesmen kompetensi untuk mahasiswa bidang kesehatan. Yang kita lihat hari ini adalah skema penolong kegawatdaruratan, khususnya bagi mahasiswa keperawatan. Sebelumnya, pada tanggal 19 sampai 21, yang ikut adalah mahasiswa kebidanan dan kesehatan masyarakat. Total peserta ada 62 orang,” ujar Indri.
Ia menegaskan, asesmen ini bertujuan memastikan mahasiswa telah memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri, sekaligus meningkatkan daya saing lulusan UPA di pasar kerja global.
“Kegiatan ini untuk memastikan mahasiswa sudah memiliki standar kompetensi yang diperlukan masyarakat maupun industri. Sertifikat yang mereka peroleh juga mendapat pengakuan internasional,” jelasnya.

Indri menambahkan, mahasiswa yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat kompetensi sekaligus gelar non-akademik sesuai dengan skema yang diikuti, seperti kegawatdaruratan, mom and baby spa, hingga neuroscience facilitator.
“Sertifikasi ini bahkan menjadi persyaratan untuk mengikuti ujian akhir atau skripsi. Tidak semua kampus memiliki metode seperti ini, karena di UPA sudah kita include dalam satu paket pembelajaran dan pengujian,” tegasnya.
Menariknya, proses uji kompetensi ini dilakukan secara independen oleh asesor dari Assessment Center, bukan oleh dosen pengampu di fakultas.
“Yang menguji bukan dari fakultas, melainkan dari Assessment Center. Para asesor ini sudah tersertifikasi dan berkompeten di bidangnya. Sertifikat diterbitkan oleh Universitas Patria Artha dan tetap terakreditasi oleh lembaga nasional serta internasional,” tambah Indri.
Sementara itu, Manajer Sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UPA, Suhendra, menjelaskan bahwa seluruh peserta harus melalui dua tahapan uji, yakni uji tulis dan uji praktik.
“Uji tulis dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta terkait penanganan kegawatdaruratan, mulai dari luka, penyiapan alat evakuasi, hingga proses evakuasi korban. Setelah itu dilanjutkan dengan uji praktik,” jelas Suhendra.
Pada tahap praktik, peserta dibagi dalam kelompok kecil dan dihadapkan pada simulasi kasus yang berbeda-beda, menyerupai kondisi nyata di lapangan.
“Setiap kelompok mendapatkan kasus yang berbeda, ada yang patah tulang, luka terbuka, korban tidak sadar, hingga gangguan pernapasan. Mereka diuji bagaimana pengetahuan dan keterampilannya dalam menangani korban serta melakukan evakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, simulasi dilakukan di lingkungan kampus dengan berbagai rintangan yang sengaja disiapkan.
“Mereka harus melewati tanjakan, turunan, lorong sempit, seolah-olah berada di lokasi bencana seperti gempa bumi. Ini untuk melatih kesiapan mental dan keterampilan mereka di kondisi sebenarnya,” katanya.
Menurut Suhendra, uji kompetensi ini juga sejalan dengan visi UPA dalam menyiapkan mahasiswa agar tanggap terhadap situasi darurat di masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa, tidak hanya dari kesehatan, tapi juga dari fakultas lain seperti teknik dan ekonomi, siap melakukan pertolongan pertama saat dibutuhkan. Minimal mereka paham golden time dalam menyelamatkan korban sebelum ditangani tenaga medis,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Patria Artha menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kompeten, percaya diri, dan siap berkontribusi nyata di tengah masyarakat.


Tidak ada komentar