Dari Kampus Institut Teknologi Bandung, CEO BYD Haka Auto Indonesia Tegaskan EV Kunci Pangkas Impor BBM Nasional

Mardianto
28 Apr 2026 06:15
3 menit membaca

Kabareditorial.com, Bandung — CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, menegaskan bahwa kendaraan listrik (electric vehicle/EVI memiliki peran strategis dalam mendorong kemandirian energi nasional, pertumbuhan ekonomi, serta pengurangan emisi karbon. Hal tersebut disampaikan dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dihadiri lebih dari 1.000 mahasiswa secara luring dan daring.

Dalam pemaparannya, Hariyadi Kaimuddin menjelaskan bahwa kendaraan listrik berada pada titik pertemuan tiga agenda besar Indonesia, yaitu kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.

“EV bukan hanya solusi transportasi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan. ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hariyadi Kaimuddin.

Dorong Kemandirian Energi dan Kurangi Ketergantungan Impor

Hariyadi menyoroti bahwa sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang. terbesar konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia. Tanpa transformasi menuju elektrifikasi, kebutuhan energi berbasis impor diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan. Jumlah kendaraan.

la menekankan bahwa kendaraan listrik memungkinkan pemanfaatan energi domestik secara lebih optimal. Dalam kondisi saat ini, sistem kelistrikan nasional masih ditopang oleh berbagai sumber energi, termasuk energi fosil seperti batu bara yang masih dominan, namun ke depan pemanfaatan energi listrik terbarukan yang bersumber dari energi domestik-seperti tenaga air, panas bumi, dan surya-dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

“Jika kita beralih ke listrik berbasis energi domestik, ketahanan energi Indonesia akan jauh lebih. kuat,” jelasnya.

Selain aspek energi, pengembangan kendaraan listrik juga dinilai memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Industri otomotif berkontribusi besar terhadap PDB, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sehingga transformasi menuju EV berpotensi memperkuat struktur industri nasional.

Harlyadi menegaskan bahwa keberhasilan adopsi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga pada kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Hal ini mencakup pengembangan infrastruktur pengisian daya (SPKLU), rantai pasok bateral, layanan purna jual, serta kesiapan tenaga teknis.

Menurutnya, percepatan ekosistem ini harus didukung oleh kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan guna menciptakan sistem yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Dalam kesempatan tersebut, Hariyadi juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut berperan aktif dalam pengembangan solusi Inovatif di sektor energi dan kendaraan listrik.

“Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” tegasnya.

la menambahkan bahwa pengembangan industri EV membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya di bidang teknologi, energi terbarukan, dan inovasi industri.

Sebagai bagian dari industri kendaraan listrik, BYD bersama Haka Auto berkomitmen untuk terus mendukung percepatan adopsi EV di Indonesia melalui pengembangan jaringan, layanan, serta edukasi kepada masyarakat.

Partisipasi dalam kegiatan akademik seperti Studium Generale ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam membangun kolaborasi dengan institusi pendidikan serta menyiapkan talenta masa depan di sektor kendaraan listrik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x