Makin Dekat, Makin Mudah: Jejak Pegadaian Menggerakkan Ekonomi Desa Melalui Agen

Mardianto
29 Sep 2025 23:02
11 menit membaca

“Kalau dulu omzetnya hanya Rp1 sampai 2 juta. Sekarang bisa Rp10 juta, alhamdulillah,” kata Hajrah Nasaruddin, mengenang perjuangannya menjadi Agen Pegadaian.

Sore itu, langit Desa Bontoramba di Kecamatan Somba Opu mulai berwarna jingga. Di jalan aspal yang mulai rusak, anak-anak berlarian riang, sementara petani pulang membawa cangkul di pundak, dan gembala sapi memandu ternaknya tidak masuk badan jalan. Di tengah hiruk-pikuk sederhana itu, sebuah toko kecil bernama Toko Radit Agen Pegadaian Syariah tampak ramai. Dari balik etalase kaca, Hajrah Nasaruddin melayani warga dengan cekatan.

Tangannya lincah menghitung, sementara matanya tak lepas memberi senyum ramah. Tak banyak yang tahu, perempuan tangguh ini pernah memulai segalanya dari warung kelontong sederhana. Kini, tujuh tahun berselang, ia menjelma menjadi agen perubahan yang membawa akses keuangan hingga ke pintu rumah tetangganya.

Di balik etalase kaca, Hajrah Nasaruddin dengan sigap melayani warga yang datang. Ada yang ingin menabung emas, ada pula yang memperpanjang gadai.

“Kalau sore begini memang ramai, karena masyarakat selesai dari sawah atau dagangan,” ujarnya sambil tersenyum, Kamis (18/09/2025)

Perjalanan Hajrah bersama Pegadaian dimulai pada 2018. Awalnya ia hanyalah penjual kelontong di rumah sekaligus nasabah Pegadaian. Karena sering bolak-balik ke kantor, seorang pegawai menawarkan kesempatan untuk menjadi agen.

“Ibu, daripada bolak-balik, bagaimana kalau jadi agen saja?,” kenangnya dalam aksen Makassar.

Dengan modal awal Rp5 juta, Hajrah resmi terdaftar sebagai agen Pegadaian Syariah. Awalnya, hanya segelintir orang yang menggunakan jasanya.

“Masyarakat coba-coba dulu, baru percaya. Lama-lama transaksi mulai ramai,” tuturnya.

Transaksi Tembus Rp1 Miliar

Kini, tujuh tahun berselang, capaian Hajrah luar biasa. Agen yang dulunya sepi kini mencatat rata-rata transaksi Rp500 juta sampai Rp1 miliar per bulan. Dari aktivitas itu, ia bisa meraih omzet bersih Rp10 juta setiap bulan.

“Kalau dulu omzetnya hanya Rp1 sampai 2 juta. Sekarang bisa Rp10 juta, alhamdulillah,” katanya.

Layanan yang ia sediakan pun semakin beragam, mulai dari gadai emas, tabungan emas, kredit kendaraan, pembiayaan usaha mikro, daftar haji, hingga layanan pembayaran. Semua bisa diakses masyarakat tanpa harus ke kantor Pegadaian di kota.

“Banyak warga bilang, mereka sangat terbantu. Bahkan kalau butuh uang mendadak malam-malam, bisa langsung ke sini,” tambahnya.

Dari warung kelontong sederhana, Hajrah Nasaruddin kini menjelma jadi agen perubahan lewat Toko Radit Agen Pegadaian Syariah di Desa Bontoramba, Somba Opu, Gowa. (Foto: Mardianto/kabareditorial.com)

Dari warung kelontong sederhana, Hajrah Nasaruddin kini menjelma jadi agen perubahan lewat Toko Radit Agen Pegadaian Syariah di Desa Bontoramba, Somba Opu, Gowa. (Foto: Mardianto/kabareditorial.com)

Tak hanya transaksi, Hajrah juga membawa perubahan dalam pola pikir masyarakat. Ia menginisiasi arisan emas batangan (LME) yang diikuti belasan warga.

“Mereka jadi punya tabungan dan investasi jangka panjang. Itu penting untuk masa depan,” jelasnya.

Pegadaian sendiri mencatat, hingga 2024 terdapat lebih dari 14.000 agen Pegadaian di seluruh Indonesia yang menjadi ujung tombak inklusi keuangan, terutama di pelosok desa.

Mengubah Kehidupan Keluarga

Keberhasilan Hajrah juga berdampak pada keluarganya. Berkat tambahan penghasilan sebagai agen, ia mampu menyekolahkan anaknya di Celebes Global School, sebuah sekolah internasional di Makassar.

“Dulu ekonominya pas-pasan, sekarang alhamdulillah bisa lebih leluasa,” katanya.

Ia juga telah membuka outlet keduanya di kecamatan yang berbeda dan mempekerjakan dua karyawan untuk membantu di toko. Bahkan, beberapa kali Hajrah mendapatkan reward perjalanan domestik dari Pegadaian sebagai apresiasi atas kinerjanya.

Bagi Hajrah, menjadi agen Pegadaian bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan jalan untuk membantu sesama.

“Ini bukan hanya bisnis. Saya merasa bisa membantu masyarakat, sekaligus memperbaiki kehidupan keluarga saya,” tuturnya.

Nasabah desa kini tak perlu jauh

Hasrah Daeng Mayang, warga lansia Bontoramba, merasakan langsung manfaat adanya agen Pegadaian di desanya.

“Kalau dulu mau ke Pegadaian di Sungguminasa, saya mesti naik ojek dulu sekitar 6 kilometer ke jalan poros,” kata Daeng Mayang usai menggadai emasnya, Kamis (18/09/2025).

Perjalanan belum selesai. Dari jalan poros, ia masih harus menunggu angkot untuk menempuh 7 kilometer lagi menuju pusat kota.

“Kadang harus menunggu lama, ongkosnya juga lumayan. Bisa habis waktu setengah hari hanya untuk satu urusan ini saja,” tambahnya.

Hasrah Daeng Mayang, lansia di Desa Bontoramba, Kec. Somba Opu, Gowa sedang menandatangani berkas usai menggadaikan gelang emasnya di Toko Radit Agen Pegadaian, Kamis (18/09/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Hasrah Daeng Mayang, lansia di Desa Bontoramba, Kec. Somba Opu, Gowa sedang menandatangani berkas usai menggadaikan gelang emasnya di Toko Radit Agen Pegadaian, Kamis (18/09/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Kini, setelah ada agen Pegadaian milik Hajrah, semuanya berubah.

“Saya tinggal jalan kaki atau dibonceng naik motor sebentar. Tidak perlu lagi keluar ongkos ojek dan pete-pete (Angkot). Hemat waktu, hemat biaya,” katanya lega.

Ia merasa layanan ini benar-benar membantu, terutama ketika ada kebutuhan mendadak.

“Kalau butuh dana mendadak, tidak panik lagi. Tinggal ke agen terdekat, cepat selesai,” ujarnya.

Bagi Hasrah, agen Pegadaian bukan sekadar tempat transaksi, tetapi jembatan yang memangkas hambatan jarak dan biaya.

“Kehadiran agen di desa ini membuat hidup kami jauh lebih mudah,” tutupnya.

Kaki tangan Pegadaian di pelosok, OSL Agen Tembus Rp1,08 Triliun

Kepala Jaringan Distribusi dan Layanan (JDL) Kanwil VI Makassar, Andi Nur Afiat Akib,  mengatakan keberadaan agen Pegadaian menjadi tulang punggung dalam memperluas akses keuangan masyarakat. Program ini pertama kali diluncurkan tahun 2018 dengan konsep kemitraan. Agen sebagai mitra Pegadaian yang menjual produk-produk resmi perusahaan.

Hingga kini, tercatat ada sekitar 25 ribu agen terdaftar di wilayah Kanwil VI, dengan 6.720 agen aktif yang benar-benar melayani pembiayaan. Para agen ini tersebar di tujuh area besar. Makassar I, Makassar II, Parepare, Palopo, Bantaeng, Kendari dan Ambon.

“Mereka adalah kaki tangan Pegadaian untuk menjangkau nasabah hingga ke pelosok,” jelas Ifa, sapaan akrabnya, Selasa (16/09/2025).

Kepala Jaringan Distribusi dan Layanan (JDL) Kanwil VI Makassar, Andi Nur Afiat Akib (tengah), berbincang santai bersama kolega di kantornya, Selasa (16/09/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Kepala Jaringan Distribusi dan Layanan (JDL) Kanwil VI Makassar, Andi Nur Afiat Akib (tengah), berbincang santai bersama kolega di kantornya, Selasa (16/09/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Dari sisi kinerja, kontribusi agen terhadap pembiayaan terbilang signifikan. Data terbaru mencatat Outstanding Loan (OSL) melalui agen sudah mencapai Rp1,086 triliun, dengan total 327.654 nasabah pembiayaan.

Pertumbuhan juga terlihat di sejumlah area, misalnya Parepare yang mencatat kenaikan OSL hingga Rp28,4 miliar (12,02% YoY), Makassar II tumbuh Rp15,2 miliar (7,12%), Kendari naik Rp17,3 miliar (11,96%), dan Palopo yang melonjak paling tinggi hingga Rp15,5 miliar (19,76%).

Namun tidak semua area tumbuh positif. Bantaeng justru mengalami kontraksi OSL sebesar Rp25,5 miliar (-15,09%), disusul Makassar I turun Rp14,9 miliar (-11,77%) dan Ambon berkurang Rp5,1 miliar (-6,15%).

“Fluktuasi ini wajar, tapi secara agregat peran agen tetap krusial dalam menopang kinerja pembiayaan,” kata Andi.

Selain jumlah agen, kualitas juga diperhatikan. Hingga kini, terdapat 325 agen gadai yang telah mendapatkan sertifikasi resmi setelah pelatihan intensif selama tiga minggu di kantor pusat.

Tampilan data kinerja Outstanding Loan (OSL) melalui agen di Pegadaian Kanwil VI Makassar yang menunjukkan kontribusi signifikan jaringan agen terhadap penyaluran pembiayaan, Selasa (16/09/2025). (Foto: Dok. Pegadaian Wil. VI Makassar)

Tampilan data kinerja Outstanding Loan (OSL) melalui agen di Pegadaian Kanwil VI Makassar yang menunjukkan kontribusi signifikan jaringan agen terhadap penyaluran pembiayaan, Selasa (16/09/2025). (Foto: Dok. Pegadaian Wil. VI Makassar)

Agen jenis ini bahkan mampu mengelola OSL Rp20 hingga 50 miliar, dengan potensi pendapatan pribadi mencapai Rp20 hingga 30 juta per bulan. Menariknya, sebagian besar agen adalah ibu rumah tangga yang kini mandiri secara ekonomi.

Ke depan, Pegadaian menargetkan penambahan 3 ribu agen aktif baru agar total mencapai 10 ribu agen aktif pada 2026, dengan pembiayaan melalui jaringan agen ditargetkan menembus lebih dari Rp1 triliun.

“Kami juga segera meluncurkan agen badan usaha dengan model mobil keliling, khusus untuk menjangkau daerah blank spot. Dengan tagline makin dekat, makin mudah, kami ingin memastikan layanan Pegadaian bisa diakses masyarakat dari pagi hingga malam hari,” tutup Andi.

PAPI Dorong Agen Jadi Inspirator Keuangan

Ketua Umum Persatuan Agen Pegadaian Indonesia (PAPI), Suhermin mengatakan, keberadaan agen Pegadaian sudah menjadi garda terdepan inklusi keuangan. Secara nasional, jumlah agen kini telah mencapai lebih dari 72 ribu agen terdaftar, dengan sekitar 30 ribu agen aktif yang melayani transaksi harian di berbagai daerah, dari perkotaan hingga pelosok.

“Rata-rata tambahan penghasilan agen mencapai Rp3 hingga 5 juta per bulan, bahkan ada yang bisa menembus Rp20 juta jika aktif melayani pembiayaan skala besar,” ujar Suhermin via telepon, Kamis (18/09/2025).

Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa agen tidak hanya menjadi saluran layanan keuangan, tapi juga instrumen peningkatan kesejahteraan keluarga.

Ketua Umum Persatuan Agen Pegadaian Indonesia (PAPI), Suhermin, memberikan edukasi literasi keuangan kepada petani jagung di Kabupaten Jeneponto sebagai bagian dari penguatan peran agen di sektor pertanian. (Foto: Dok. Pribadi Suhermin)

Ketua Umum Persatuan Agen Pegadaian Indonesia (PAPI), Suhermin, memberikan edukasi literasi keuangan kepada petani jagung di Kabupaten Jeneponto sebagai bagian dari penguatan peran agen di sektor pertanian. (Foto: Dok. Pribadi Suhermin)

PAPI juga aktif menjalankan program peningkatan kapasitas. Sejak 2021, lebih dari 15 ribu agen telah mengikuti pelatihan literasi keuangan, manajemen risiko, dan pemasaran digital. Program ini diharapkan mampu memperkuat peran agen sebagai pendamping masyarakat, bukan sekadar perantara transaksi.

“Kita hadir bukan sekadar sebagai agen layanan keuangan, tapi sebagai pemimpin dan inspirator, sebuah simbol kekuatan dan ketangguhan dalam menanamkan harapan ekonomi bagi masyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” tegas Suhermin.

Ia menyebut PAPI kini mengusung semangat Jagung yang Tumbuh Subur sebagai filosofi pergerakan. Filosofi ini melambangkan ketahanan dan pertumbuhan, agen sebagai benih harapan, tumbuh kuat di tengah tantangan, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

“Bersama PAPI, Juragan Jagung menabur harapan, menuai kemakmuran untuk Indonesia yang lebih jaya!” tutupnya dengan penuh optimisme.

OJK sebut peran agen krusial capai target inklusi

Kepala OJK Sulselbar, Mochammad Muchlasin, menekankan bahwa peran agen Pegadaian tidak bisa dilepaskan dari agenda nasional inklusi keuangan.

Hingga pertengahan 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 ini meningkat dibanding SNLIK 2024 yang menunjukkan indeks literasi keuangan 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 persen.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin (kedua dari kiri, berbaju kotak-kotak), memaparkan perkembangan kinerja keuangan Sulselbar dalam kegiatan Journalist Update di kantor OJK Sulselbar, Jumat (15/08/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin (kedua dari kiri, berbaju kotak-kotak), memaparkan perkembangan kinerja keuangan Sulselbar dalam kegiatan Journalist Update di kantor OJK Sulselbar, Jumat (15/08/2025). (Foto: Mardianto/Kabareditorial.com).

Muchlasin menegaskan bahwa Pegadaian, melalui jaringan agen dan produk – produk mikro berkontribusi besar pada pencapaian itu.

“Banyak masyarakat yang sebelumnya harus menempuh belasan kilometer ke kantor cabang, kini bisa mengakses pembiayaan hanya lewat agen di desa. Itu dampaknya langsung terasa dalam peningkatan inklusi keuangan,” jelas Muchlasin dalam Journalist Update di Kantor OJK Sulselbar, Jumat (15/08/2025).

Ia juga menambahkan, OJK terus mendorong sinergi antara Pegadaian, perbankan, dan lembaga jasa keuangan lain untuk memperluas akses keuangan di level akar rumput.

Selain itu, Muchlasin menyoroti pentingnya sinergi program edukasi keuangan dengan keberadaan agen. Sepanjang Januari – April 2025, OJK Sulselbar telah menggelar lebih dari 100 kegiatan literasi, termasuk talkshow, sosialisasi, podcast, hingga training of trainers, dengan total peserta mencapai lebih dari 513 ribu orang.

“Gerakan Bulan Literasi Keuangan dan Bulan Inklusi Keuangan harus menyentuh masyarakat desa. Agen-agen perbankan dan non perbankan bisa menjadi perpanjangan tangan kami dalam mengedukasi sekaligus melindungi masyarakat dari praktik keuangan yang merugikan,” tegas Muchlasin.

Komisi VI DPR RI Apresiasi Komitmen Inklusi Pegadaian

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Ismail Bachtiar, mengatakan perluasan agen Pegadaian merupakan strategi yang sangat relevan dalam mempercepat inklusi keuangan masyarakat desa.

Ia menekankan bahwa Pegadaian, yang kini berada di bawah holding BRI Group, memiliki peran strategis yang serupa, mendorong akses layanan keuangan hingga ke tingkat paling bawah.

“Komitmen Pegadaian dalam memberikan dukungan terhadap literasi dan inklusi keuangan sangat dibutuhkan. Harapannya, layanan ini bisa menjangkau pelaku UMKM, masyarakat kelas menengah ke bawah, bahkan hingga ke desa-desa yang jauh dari pusat kota,” ungkap Ismail via whatsapp, Rabu (17/09/2025).

Secara nasional, kontribusi agen Pegadaian sudah terlihat nyata. Hingga pertengahan 2025, jumlah agen terdaftar mencapai lebih dari 72 ribu, dengan sekitar 30 ribu agen aktif yang melayani transaksi harian. Mereka berkontribusi terhadap Outstanding Loan (OSL) Rp1,08 triliun dan melayani lebih dari 327 ribu nasabah pembiayaan hanya di wilayah Kanwil VI Makassar.

Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi PKS, Ismail Bachtiar. (Foto: Ist).

Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi PKS, Ismail Bachtiar. (Foto: Ist).

Dari sisi UMKM, data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat ada 65,5 juta pelaku UMKM di Indonesia, yang menyerap 97% tenaga kerja nasional dan menyumbang sekitar 61% PDB. Menurut Ismail, perluasan agen Pegadaian akan sangat mendukung akses permodalan mikro bagi UMKM desa, sehingga mereka tidak bergantung pada rentenir atau pinjaman ilegal.

“Di Komisi VI yang salah satu mitranya BUMN, kami mendorong agar Pegadaian tidak hanya memperluas jumlah agen, tapi juga memperkuat kapasitas mereka dengan literasi keuangan digital dan dukungan teknologi. Dengan begitu, agen bisa benar-benar menjadi mitra pemberdaya masyarakat, bukan hanya perantara transaksi,” tambahnya.

DPR RI, lanjut Ismail, juga mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong inklusi keuangan nasional, di mana agen Pegadaian diharapkan menjadi salah satu pilar utama pencapaiannya.

Transaksi agen hidupkan perputaran ekonomi lokal

Ekonom Senior Universitas Hasanuddin, Assoc. Prof. Andi Nur Bau Massepe, menilai kehadiran agen Pegadaian memberi efek berlapis pada ekonomi desa. Agen tidak hanya memperluas akses keuangan, tapi juga memperkuat perputaran ekonomi lokal.

“Dari kacamata ekonomi, agen mendorong inklusi sekaligus literasi keuangan. Masyarakat desa lebih mudah memahami produk sederhana, terutama emas, yang dekat dengan budaya kita,” jelas Andi Nur, Rabu (17/09/2025).

UMKM yang jumlahnya 65,5 juta unit, menyerap 97% tenaga kerja nasional dan menyumbang 61% PDB, disebut sangat terbantu lewat produk Pegadaian seperti tabungan dan gadai emas. Dengan harga emas mencapai Rp2 juta per gram, instrumen ini dinilai aman sekaligus sumber modal kerja.

Ekonom Senior Universitas Hasanuddin, Assoc. Prof. Andi Nur Bau Massepe. (Foto: Dok. Pribadi).

Ekonom Senior Universitas Hasanuddin, Assoc. Prof. Andi Nur Bau Massepe. (Foto: Dok. Pribadi).

Menurutnya, agen bukan sekadar melayani transaksi, tapi juga menjadi pendidik informal. Rata-rata agen melayani 40 hingga 70 transaksi per hari dengan nilai Rp50 sampai 100 juta per bulan. Dana ini berputar kembali di desa, menggerakkan usaha, pendidikan, dan konsumsi lokal.

Andi Nur menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan, termasuk literasi digital dan pelatihan keuangan. Ia menilai agen bisa tumbuh sebagai pusat edukasi finansial desa sekaligus mendukung kebijakan keuangan nasional.

“Kalau optimal, agen bisa menjadi penopang ketahanan ekonomi lokal sekaligus mendukung target kebijakan keuangan nasional. Bukan hanya soal transaksi, tetapi bagaimana agen ini tumbuh sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x