Makassar, Kabareditorial.com — Ekspor komoditas asal Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2025 menunjukkan kinerja yang mengesankan. Berdasarkan data Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BBKHIT) Sulawesi Selatan, lalu lintas ekspor dari wilayah ini telah menjangkau 63 negara tujuan dengan total nilai mencapai triliunan rupiah.
Capaian tersebut tidak lepas dari peran strategis Balai Karantina dalam memastikan keamanan hayati, mutu, dan standarisasi produk ekspor.
Kepala Balai Besar Karantina Sulsel, Sitti Chadidjah, mengatakan bahwa kinerja ekspor tahun 2025 menjadi bukti nyata kontribusi karantina dalam menjaga kualitas produk asal Sulawesi Selatan sekaligus memperluas pasar global.
“Karantina hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator ekspor. Kami memastikan bahwa setiap komoditas yang dikirim keluar negeri memenuhi standar kesehatan dan keamanan hayati internasional,” ujar Sitti Chadidjah di Makassar, Rabu (5/11/2025).
Chadijah menjelaskan, dari total 63 negara tujuan, sepuluh negara utama menjadi pasar dominan, yakni China, Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Spanyol, Prancis, Rusia dan Jerman. Menurutnya, pasar ini menandai pergeseran positif ke arah ekspor bernilai tambah tinggi, khususnya untuk produk perikanan dan pertanian olahan.
Kinerja Ekspor Melesat di Semua Sektor
Selama Semester I tahun 2025, ekspor komoditas ikan, tumbuhan, dan hewan dari Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Untuk komoditas ikan non-hidup, volumenya naik 22,7 persen, dari 9.508 ton menjadi 11.606 ton dengan total nilai mencapai Rp 2,2 triliun. Sementara ekspor ikan hidup melonjak tajam 252,3 persen, dari 1.003.610 ekor menjadi 3.535.406 ekor, dengan nilai mencapai Rp 329 miliar.

Pada sektor tumbuhan, lonjakan kinerja bahkan lebih tinggi. Volume ekspor meningkat 77,9 persen, dari 89.068 ton pada semester I 2024 menjadi 158.462 ton pada semester I 2025, dengan nilai perdagangan mencapai Rp 2,4 triliun.
“Kenaikan ini menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan semakin menjadi sentra komoditas ekspor nasional. Kami berkomitmen menjaga standar mutu agar setiap produk asal daerah ini mampu bersaing di pasar global,” tutur Chadidjah.
Komoditas Unggulan: Dari Udang hingga Rumput Laut
Secara rinci, data menunjukkan bahwa komoditas ikan non-hidup yang paling dominan berdasarkan volume meliputi Udang Vannamei (2.980 ton), Gurita (1.618 ton), Karagenan (1.429 ton), Kerapu (1.270 ton), dan Tuna (1.146 ton). Sedangkan untuk ikan hidup, ekspor terbesar terdiri atas Kepiting Bakau (2,65 juta ekor), Kerapu (95.799 ekor), dan Udang Ronggeng (27.536 ekor).

Pada kelompok tumbuhan, komoditas unggulan yang menjadi andalan ekspor meliputi Rumput Laut, Kelapa Bulat, Kakao, Porang, Kacang Mede, Cengkeh, dan Kopi Biji.
Selama semester I 2025, Rumput Laut mencatat volume ekspor tertinggi yakni 70.747 ton dengan nilai Rp 1,1 triliun, sebagian besar dikirim ke China (66.443 ton). Sementara Kelapa Bulat mencapai 18.665 ton (Rp 124 miliar), dan Kakao sebanyak 3.714 ton (Rp 445 miliar) dengan tujuan utama China, Malaysia, dan Australia.
“Produk-produk ini tidak hanya menjadi andalan ekspor, tetapi juga berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Karantina memastikan setiap pengiriman memiliki sertifikat kesehatan dan dokumen kelayakan ekspor,” tambah Chadijah.
Pasar Global Semakin Terbuka
Dari data lalu lintas, komoditas ikan Sulsel kini diekspor ke 46 negara, dengan 10 tujuan dominan yaitu China, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Hong Kong, Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Thailand, dan Rusia.Adapun komoditas tumbuhan menjangkau 42 negara, terutama ke China, Vietnam, Korea Selatan, Malaysia, Prancis, Spanyol, India, Nigeria, dan Cile.
Sementara komoditas hewan, meski volumenya lebih kecil, tetap menunjukkan kinerja stabil dengan ekspor Kulit Reptil Kering (Phyton, Water Snake, Lizard Skin) ke Singapura sebanyak 4.201 lembar dengan nilai Rp 497,1 juta, serta ekspor Butterfly Specimen ke Australia senilai Rp 30,9 juta.
“Pasar global semakin terbuka untuk produk asal Sulawesi Selatan, karena kami menerapkan sistem traceability yang ketat. Setiap produk bisa dilacak asal usulnya dan diuji kelayakannya sebelum dikirim,” ungkap Chadidjah.
Kinerja Bulan Oktober 2025: Ekspor Stabil dan Berkualitas
Khusus pada bulan Oktober 2025, BBKHIT Sulsel menerbitkan 887 sertifikat ekspor komoditas ikan, dengan total 2.694 ton produk non-hidup senilai Rp 406,7 miliar dan 328.559 ekor ikan hidup senilai Rp 18,5 miliar.
Lima produk non-hidup terbesar adalah Karagenan (823 ton), Udang Vannamei (581 ton), Tuna (242,9 ton), Kerapu (200 ton), dan Gurita (169 ton).
Sedangkan untuk tumbuhan, tercatat 22.955 ton produk ekspor senilai Rp 560,6 miliar, didominasi Rumput Laut (12.257 ton, Rp 167 miliar) dan Kakao (1.403 ton, Rp 328 miliar).
“Peningkatan permintaan global terutama dari China dan Korea Selatan memperlihatkan potensi besar bagi ekspor kita. Kami akan terus memperkuat pengawasan agar tidak ada kasus penolakan di negara tujuan,” kata Chadidjah.
Menurut Chadidjah, keberhasilan ekspor ini bukan hanya soal angka ekonomi, tetapi juga keberhasilan menjaga keseimbangan antara perlindungan sumber daya alam hayati dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Karantina adalah garda terdepan perlindungan sumber daya alam hayati sekaligus motor penggerak ekonomi. Kami menjaga agar komoditas ekspor tetap sehat, aman, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Tidak ada komentar