Sulsel Berpeluang Jadi Destinasi Wisata Halal Unggulan, tapi Butuh Komitmen Berkelanjutan

Mardianto
23 Nov 2025 15:43
3 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar  —Pengembangan wisata halal atau Muslim Friendly Tourism (MFT) di Sulawesi Selatan dinilai memiliki potensi besar namun masih memerlukan penguatan tata kelola, standardisasi layanan dan kontinuitas kebijakan.

Pakar ekonomi islam Universitas Airlangga, Prof. Imron Mawardi mengatakan, Sulawesi Selatan memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan destinasi wisata unggulan yang sangat memungkinkan dikembangkan menjadi kawasan wisata ramah muslim dengan standar nasional.

“Potensi Sulawesi Selatan sangat besar. Namun wisata halal itu tidak cukup dengan label. Ia memerlukan sistem layanan, fasilitas ibadah, jaminan halal, hingga SDM pariwisata yang memahami prinsip Muslim Friendly Tourism,” jelas Prof. Imron dalam Media Gathering OJK Sulselbar di Kota Malang, Minggu (23/11).

Dalam penilaiannya, Prof. Imron menegaskan bahwa beberapa daerah di Sulawesi Selatan sudah mulai mengembangkan konsep wisata halal, termasuk Toraja. Namun banyak program yang tidak berlanjut dan belum mendapatkan monitoring berkelanjutan.

“Sejumlah daerah sudah mencanangkan wisata halal, tetapi tidak dilakukan pendampingan dan monitoring secara konsisten. Akibatnya dampak ekonominya belum signifikan bagi pelaku usaha lokal,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa wisatawan muslim, baik domestik maupun mancanegara, membutuhkan kepastian terkait fasilitas ibadah, ketersediaan kuliner halal, layanan hotel ramah muslim, hingga panduan informasi yang jelas.

Prof. Imron menjelaskan bahwa arah kebijakan ekonomi syariah nasional saat ini sangat berpihak pada penguatan ekosistem halal, termasuk sektor pariwisata.

Pemerintah melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) terus mempercepat sertifikasi halal, memperluas investasi syariah, dan mendorong daerah membangun industri halal yang terintegrasi.

“Secara nasional, kita sedang berada dalam arus besar ekonomi syariah. Kebijakan pemerintah sudah jelas mendukung industri halal. Ini harus dimanfaatkan oleh daerah, termasuk Sulawesi Selatan, untuk membangun pariwisata ramah muslim sebagai bagian dari ekonomi syariah,” terangnya.

Menurutnya, wisata halal merupakan sub-sektor yang sangat strategis karena berdampak langsung pada UMKM, perhotelan, transportasi, kuliner, dan ekonomi kreatif.

Prof. Imron menyoroti perlunya pendampingan bagi pelaku UMKM di destinasi wisata. Banyak UMKM kuliner dan produk unggulan yang bisa dikembangkan sebagai bagian dari rantai nilai industri halal.

“Wisata halal tidak bisa berdiri sendiri. UMKM harus diperkuat dengan sertifikasi halal, peningkatan kualitas produk, dan dukungan pembiayaan syariah. Inilah yang membuat ekosistemnya hidup,” kata Prof. Imron.

Dengan populasi muslim di Indonesia yang besar, Sulawesi Selatan dinilai mempunyai peluang signifikan untuk masuk dalam peta utama wisata halal nasional. Namun keberhasilan daerah tidak cukup hanya melalui launching program atau slogan.

“Jika Sulawesi Selatan ingin menjadi destinasi wisata halal yang diakui, maka harus ada komitmen jangka panjang, mulai dari infrastruktur, promosi, pelatihan SDM, hingga kolaborasi dengan lembaga sertifikasi halal,” tegasnya.

Prof. Imron menegaskan, wisata halal dapat menjadi motor ekonomi daerah apabila dikelola secara profesional.

“Wisata halal bukan sekadar konsep agama. Ini adalah peluang ekonomi. Bila Sulawesi Selatan mampu membangun ekosistem halal yang menyeluruh, maka pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat dan membawa manfaat luas bagi masyarakat,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x