

Kabareditorial.com, Makassar — Upaya PT Pegadaian Kanwil VI Sulselbarra Maluku menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak berprestasi dan kurang mampu di SDI Barrang Lompo, Pulau Barrang Lompo, Makassar, dinilai tidak sekadar menjadi bentuk kepedulian sosial perusahaan.
Pengamat sekaligus pemerhati pendidikan dari Universitas Bosowa, Muhammad Nur, menilai program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat akses dan motivasi pendidikan bagi anak-anak di wilayah kepulauan.
Menurut Muhammad Nur, persoalan pendidikan di wilayah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap sekolah, tetapi juga ketersediaan fasilitas pendukung yang memungkinkan anak belajar secara lebih optimal.
“Bantuan perlengkapan sekolah seperti ini memang terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, dukungan tersebut memiliki arti penting. Ini bukan hanya soal barang yang diberikan, tetapi bagaimana anak merasa diperhatikan dan mendapatkan dukungan untuk terus bersekolah,” ujar Muhammad Nur via telepon, Senin (28/9) sore.
Ia mengatakan, keterlibatan dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dapat menjadi salah satu kekuatan tambahan dalam mendukung pembangunan pendidikan, khususnya di wilayah yang memiliki tantangan geografis seperti pulau-pulau kecil.
Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, sekolah, masyarakat, dan komunitas perlu terus diperkuat agar intervensi pendidikan tidak berhenti pada bantuan sesaat.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memang memiliki peran utama, tetapi dunia usaha dan masyarakat juga dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya. Yang terpenting, programnya harus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat dan memiliki keberlanjutan,” katanya.
Muhammad Nur juga menilai pemberian bantuan kepada siswa berprestasi perlu ditempatkan sebagai bentuk apresiasi sekaligus stimulus agar anak memiliki motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasinya.
Sementara bagi siswa dari keluarga kurang mampu, bantuan tersebut dapat membantu mengurangi salah satu beban biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga.
“Anak yang berprestasi perlu diapresiasi agar muncul rasa percaya diri dan motivasi untuk terus berkembang. Di sisi lain, anak dari keluarga kurang mampu juga harus dipastikan tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena keterbatasan ekonomi,” jelasnya.
Ia berharap program TJSL Pegadaian di wilayah kepulauan tidak hanya menyentuh kebutuhan perlengkapan sekolah, tetapi dapat dikembangkan ke program peningkatan kapasitas siswa dan guru, literasi digital, pengembangan perpustakaan, hingga dukungan terhadap kegiatan pembelajaran.
“Kalau ingin dampaknya lebih panjang, program seperti ini bisa dilanjutkan dengan pendampingan. Misalnya literasi, penguatan kompetensi digital, pengembangan minat dan bakat anak, atau peningkatan kapasitas guru. Dengan begitu, TJSL tidak hanya bersifat karitatif, tetapi benar-benar menjadi program pemberdayaan pendidikan,” tutur Muhammad Nur.
Selain pendidikan, Pegadaian juga melaksanakan kegiatan transplantasi karang dalam rangkaian program TJSL di Pulau Barrang Lompo.
Menurut Muhammad Nur, kombinasi program pendidikan dan lingkungan memiliki nilai penting karena anak-anak di wilayah kepulauan perlu diperkenalkan dengan hubungan antara pendidikan, kehidupan sosial, dan keberlanjutan lingkungan tempat mereka tinggal.
“Anak-anak di wilayah kepulauan hidup sangat dekat dengan laut. Karena itu, pendidikan lingkungan juga penting. Mereka perlu memahami bahwa menjaga ekosistem laut berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat untuk masa depan,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan yang menempatkan pendidikan dan lingkungan sebagai bagian yang saling berkaitan.
Muhammad Nur berharap model kolaborasi seperti yang dilakukan Pegadaian dapat terus dikembangkan di wilayah kepulauan lainnya, dengan terlebih dahulu memetakan kebutuhan masyarakat setempat.
“Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan keberlanjutan. Jangan sampai program hanya berhenti pada seremoni penyerahan bantuan. Akan jauh lebih berarti jika ada evaluasi dan pendampingan sehingga kita bisa melihat perubahan yang terjadi pada penerima manfaat,” pungkasnya.


Tidak ada komentar