

“Kurban bukan hanya ritual, tapi cara kita mengabarkan cinta, dari Makassar untuk dunia,”
Udara pagi itu masih basah oleh embun, ketika takbir bergema dari berbagai penjuru kota. Di tengah-tengah halaman lapang Masjid Agung 45 Maksssar, tempat warga menunaikan Sholat Idul Adha, aroma tanah basah bercampur haru dan harapan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda tahun ini, tidak ada kantong plastik bergelantungan di tangan para panitia kurban. Sebagai gantinya, tampak rapi ratusan besek bambu, anyaman tangan dari para perajin lokal, berisi daging kurban yang siap dibagikan.
Inilah Festival Kurban 2025, sebuah inisiatif kemanusiaan dari Bosowa Peduli, yang tak sekadar menyembelih hewan, tetapi merayakan semangat berbagi dan menjaga bumi.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang hadir dalam kegiatan itu, mengingatkan pentingnya kemandirian dan kepedulian terhadap produk lokal.
“Kita tidak hanya berbagi daging. Kita berbagi kesempatan bagi UMKM lokal untuk hidup. Gunakan besek, bukan plastik. Gunakan karya anak negeri, bukan produk luar daerah,” ucapnya dalam sambutan singkat yang disambut tepuk tangan, Jumat (06/6/2025).
Langkah kecil namun bermakna itu bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Di balik setiap besek, ada tangan-tangan pengrajin dari pelosok Sulawesi Selatan, ada ekonomi keluarga yang tersambung, ada kebanggaan yang tumbuh.
Head of Bosowa Peduli, Hafit Timor Mas’us, mengatakan, festival ini juga menjadi perayaan kolaborasi dan gotong royong. Sebanyak 98 ekor sapi dan 8 ekor kambing disalurkan.
Beberapa disembelih di lokasi festival, sementara sisanya didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia hingga 2 ekor sapi secara khusus dikirimkan untuk saudara-saudara di Palestina, melalui mitra kemanusiaan internasional.
“Kurban bukan hanya ritual, tapi cara kita mengabarkan cinta, dari Makassar untuk dunia,” ujar Hafit.
Tak sedikit warga yang merasa haruh saat menerima daging kurban. Bukan karena banyak atau sedikitnya jumlah, tapi karena cara penyampaiannya yang begitu manusiawi: hangat, rapi dan tanpa merusak bumi.
Ditengah-tengah antrian menukar kupon dengan paket daging kurban, seorang pria paruh baya bernama Mirhan, menggenggam erat besek kurban yang ia terima. Mirhan adalah salah sekuriti Menara Bosowa.
“Terakhir saya makan daging? Tahun lalu juga, pas kurban begini. Tapi baru kali ini dibungkus begini bagus. Bikin hati saya hangat,” katanya, seraya tersenyum.
Kurban tahun ini tidak hanya membawa daging ke meja makan warga. Ia membawa pesan, bahwa berbagi bisa dilakukan dengan cinta, dengan kepedulian pada lingkungan, dan dengan melibatkan mereka yang sering tak terlihat.
Dan dalam besek-besek bambu itu, tersimpan lebih dari daging. Ada harapan, ada empati, dan ada cerita tentang kota yang ingin tumbuh bukan hanya lebih besar, tapi lebih baik.


Tidak ada komentar