Literasi Pasar Modal Masih Rendah, OJK Perkuat Edukasi untuk Cegah Investasi Bodong

Mardianto
11 Apr 2026 20:59
3 menit membaca

Kabareditorial.com, SERANG – Tingkat literasi masyarakat terhadap pasar modal di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi pasar modal baru mencapai 17,78 persen. Kondisi ini menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperluas edukasi sekaligus melindungi masyarakat dari penipuan investasi ilegal.

Upaya tersebut dilakukan melalui program Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 yang digelar bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal di Serang, Banten, pada 8–10 April 2026.

Edukasi tersebut menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), komunitas perempuan, hingga mahasiswa. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk memperluas basis investor domestik dan mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan daerah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan peningkatan pemahaman masyarakat menjadi kebutuhan penting seiring semakin mudahnya akses investasi melalui layanan digital.

“Penguatan literasi keuangan juga sangat diperlukan untuk semakin melindungi masyarakat dari berbagai penipuan termasuk tawaran investasi ilegal,” kata Hasan dalam kegiatan SEPMT 2026 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang.

Menurutnya, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai investasi membuat mereka lebih mudah tergiur tawaran keuntungan besar tanpa memahami risiko yang menyertainya.

“Sebab, tanpa pemahaman yang memadai tentu rentan bagi semua terbujuk iming-iming dan tawaran yang menggiurkan dari penyelenggara investasi yang sebetulnya di belakangnya memiliki motif yang tidak baik atau sering dikenal sebagai investasi ilegal dan investasi bodong,” ujarnya.

Hasan menjelaskan, edukasi pasar modal juga penting bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, agar dapat memanfaatkan peluang investasi secara tepat. Saat ini, akses terhadap layanan pasar modal semakin terbuka melalui aplikasi di telepon pintar sehingga investasi dapat dijangkau lebih mudah oleh masyarakat.

“Di sisi lain, pasar modal juga menyediakan berbagai peluang investasi menarik yang bisa diakses sekarang dengan mudah oleh siapa saja, termasuk adik-adik mahasiswa, karena sekarang layanan pasar modal itu datang ke ruangan-ruangan kita semua melalui layanan di smartphone kita masing-masing,” katanya.

Meski akses semakin mudah, Hasan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko investasi. Investor perlu memahami profil risiko, menghindari perilaku spekulatif, serta memastikan legalitas penyelenggara dan produk investasi yang digunakan.

“Ada potensi volatilitas atau pergerakan harga yang naik turun secara tajam, maraknya penipuan yang bisa jadi di belakangnya seolah-olah investasi legal untuk saham dan kripto, kemudian juga ada potensi akun-akun yang dapat disalahgunakan untuk tindak kejahatan seperti pencucian uang, misalnya. Ini tentu harus menjadi perhatian kita semua,” tambahnya.

Hingga akhir Maret 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 24,4 juta investor. Sebanyak 54 persen di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Sementara di Provinsi Banten, jumlah investor mencapai 1,2 juta dan menempatkan daerah tersebut dalam lima besar secara nasional.

Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Banten, Rina Dewiyanti, mengatakan pasar modal memiliki peran lebih luas daripada sekadar sarana investasi. Keberadaannya juga dapat mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pasar modal bukan hanya sekadar sarana investasi, tetapi juga merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah,” ujarnya.

Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, menambahkan edukasi pasar modal menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki kecakapan finansial. Menurutnya, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan investasi perlu dimiliki mahasiswa sebagai bekal menghadapi kebutuhan ekonomi pada masa mendatang.

“Banyak hal yang dapat dipelajari nanti oleh para jawara muda Untirta, khususnya para mahasiswa yang hadir pada kesempatan pagi ini untuk menjadi individu yang memiliki kecakapan literasi keuangan, pemahaman strategi pengelolaan keuangan dan investasi yang sangat dibutuhkan di masa datang,” katanya.

Melalui SEPMT 2026, OJK bersama SRO pasar modal berharap pemahaman masyarakat terhadap investasi semakin meningkat. Edukasi tersebut juga diharapkan mendorong pertumbuhan investor yang tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga memiliki pengetahuan memadai dalam mengambil keputusan investasi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x

You cannot copy content of this page