

Kabareditorial.com, Makassar — Pembangunan kota yang tidak merata berpotensi melahirkan berbagai masalah sosial baru. Isu ini menjadi fokus kajian Prof. Dr. Iskandar, M.Si. saat menyampaikan orasi ilmiah dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi dengan kepakaran Sosiologi Pembangunan dan Perubahan Sosial di Universitas Bosowa, Selasa (31/3/2026).
Dalam Sidang Terbuka Senat di Gedung Balai Sidang 45 Universitas Bosowa itu, Iskandar menegaskan bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan kemajuan sosial yang merata. Transformasi ekonomi dan modernisasi kota kerap menghadirkan konsekuensi sosial yang kompleks, terutama di wilayah perkotaan yang tumbuh cepat.
Melalui orasi ilmiah berjudul “Pembangunan, Perubahan Sosial dan Masalah Sosial Perkotaan,” ia menyoroti bahwa dinamika pembangunan kota sering kali memunculkan ketimpangan antara pusat kota dan kawasan pinggiran, serta antara wilayah urban dan rural.
“Pembangunan pada dasarnya adalah proses perubahan sosial. Namun ketika distribusi manfaatnya tidak merata, maka yang muncul adalah ketimpangan sosial yang semakin tajam,” kata Iskandar.
Menurutnya, urbanisasi yang tidak terkendali mempercepat perubahan struktur sosial kota. Pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat tidak selalu diikuti kesiapan infrastruktur, kesempatan kerja, maupun akses layanan sosial yang memadai.
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, kondisi tersebut memicu berbagai masalah sosial perkotaan yang semakin kompleks.
Iskandar mengidentifikasi sedikitnya tujuh persoalan utama yang kerap muncul dalam dinamika pembangunan kota. Pertama adalah kemiskinan perkotaan yang terus bertahan di tengah pertumbuhan ekonomi kota. Kedua, kesenjangan sosial ekonomi yang menciptakan jurang antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelompok rentan.
Masalah ketiga adalah munculnya kawasan permukiman kumuh akibat tekanan urbanisasi dan keterbatasan akses perumahan layak. Keempat, kemacetan lalu lintas yang mencerminkan ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan dan kapasitas infrastruktur.
Kelima, meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja yang sering berkaitan dengan tekanan sosial ekonomi. Keenam adalah degradasi lingkungan perkotaan yang memicu berbagai risiko bencana sosial. Sementara yang ketujuh adalah segregasi sosial, yakni pemisahan ruang hidup berdasarkan kelas ekonomi yang semakin terlihat di kota-kota besar.
“Segregasi sosial membuat kota berkembang secara terfragmentasi. Kelompok masyarakat hidup dalam ruang sosial yang terpisah, sehingga integrasi sosial menjadi semakin lemah,” jelasnya.
Ia menilai banyak persoalan perkotaan berakar pada disparitas pembangunan yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas, namun kurang memperhatikan dimensi sosial masyarakat.
Karena itu, Iskandar mendorong perubahan paradigma pembangunan kota yang lebih inklusif. Dalam pendekatan sosiologi pembangunan, pembangunan seharusnya dirancang secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan maupun pengambilan keputusan.
Menurutnya, pembangunan kota perlu diarahkan untuk menciptakan keadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kualitas kehidupan perkotaan secara berkelanjutan.
Untuk merespons dinamika perubahan sosial akibat pembangunan kota, Iskandar mengusulkan empat arah kebijakan strategis. Pertama, penguatan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi dengan strategi penciptaan lapangan kerja berbasis keterampilan.
Kedua, pembangunan jaringan perlindungan sosial yang berbasis keluarga dan komunitas agar kelompok rentan memiliki sistem dukungan yang kuat.
Ketiga, penataan ulang kebijakan tata ruang kota untuk mengurangi ketimpangan akses terhadap ruang hidup yang layak. Dan keempat, penerapan model pembangunan inklusif melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat.
“Pertumbuhan kota harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Tanpa itu, pembangunan hanya akan memperbesar ketimpangan sosial di perkotaan,” ujarnya.
Rektor Universitas Bosowa Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si. mengatakan kajian tentang pembangunan dan perubahan sosial menjadi penting di tengah percepatan urbanisasi yang terjadi di berbagai kota di Indonesia.
Menurutnya, pendekatan sosiologis sangat dibutuhkan dalam perumusan kebijakan pembangunan agar pertumbuhan kota tidak mengabaikan dimensi sosial masyarakat.
Dengan pengukuhan ini, Universitas Bosowa menambah guru besar di bidang sosiologi yang diharapkan dapat memperkuat kajian akademik terkait perubahan sosial dan dinamika pembangunan perkotaan di Indonesia.


Tidak ada komentar