Naik Kelas Tak Cukup dengan Modal, Jalan Panjang UMKM Wastra Menembus Pasar dan Pembiayaan

Mardianto
5 Sep 2026 13:53
4 menit membaca

Ari Rich Muhammad, menghabiskan tahun-tahun awal membangun merek fesyen dan wastranya ‘Arie Rich’ dengan memperkenalkan produk dari satu pameran ke pameran lain. Sejak memulai usaha pada 2015, pasarnya masih berkutat di Sulawesi Selatan. Produk dinilai baik, tetapi belum memiliki jangkauan yang cukup luas untuk berkembang.

Perubahan mulai terasa pada 2018 ketika ia mengikuti kurasi UMKM Bank Indonesia Sulawesi Selatan. Dari proses itu, Ari mulai mendapat kesempatan mengikuti berbagai pameran, program Industri Kreatif Syariah (IKRA), hingga mewakili Sulawesi Selatan pada ajang nasional.

“Setelah ikut BI, ikut kurasinya, ikut program-programnya BI, alhamdulillah sudah sampai ke skala nasional,” kata Ari dihubungi Kabareditorial.com, Sabtu (5/9).

Sebagian produknya bahkan telah dibawa ke luar negeri melalui skema hand carry. Menurut Ari, perubahan terbesar bukan hanya bertambahnya pesanan, melainkan kualitas produk yang meningkat setelah melalui proses kurasi.

“Dari segi kualitas produk jauh lebih berkembang. Dari segi penjualan alhamdulillah lebih meningkat karena jangkauan pasarnya lebih luas,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya, penjualan tahunan pernah meningkat sekitar 50 hingga 80 persen setelah akses pasarnya semakin terbuka.

Pengalaman Ari mencerminkan tantangan yang masih dihadapi banyak UMKM di Sulawesi Selatan. Di satu sisi, perekonomian daerah terus tumbuh. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Sulawesi Selatan pada 2024 tumbuh 5,02 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp696,25 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas usaha yang tetap terjaga. Namun, pertumbuhan ekonomi belum otomatis membuat seluruh UMKM mampu meningkatkan skala usahanya. Banyak pelaku usaha masih menghadapi tantangan peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, akses pasar, dan pembiayaan produktif sehingga proses naik kelas berjalan tidak merata.

Tantangan UMKM tidak berhenti pada modal. Banyak pelaku usaha justru membutuhkan pendampingan agar produknya memenuhi standar pasar, memiliki nilai tambah, dan mampu menjangkau pembeli yang lebih luas.

Pendekatan itu mulai terlihat dalam pola pembinaan Bank Indonesia Sulawesi Selatan yang dilakukan secara end-to-end, mulai dari program UMKM REWAKO, REWAKO Ekspor, REWAKO Petani hingga onboarding UMKM digital. Pembinaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi diarahkan agar pelaku usaha mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda mengingatkan bahwa penguatan UMKM juga membutuhkan fondasi makroekonomi yang sehat.

“Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, diharapkan income masyarakat juga akan meningkat. Jadi tidak hanya pemilik modal saja yang kecipratan uang, tapi harus menetes ke bawah,” katanya.

Stabilitas makroekonomi kata Rizki, menjadi faktor penting bagi pelaku usaha karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, biaya produksi, dan keputusan investasi. Inflasi yang terjaga memberi ruang bagi sektor keuangan untuk menyalurkan pembiayaan secara lebih produktif, sementara pelaku UMKM memiliki kepastian dalam merencanakan ekspansi usaha.

Menurutnya, inflasi perlu dijaga pada kisaran sasaran 2,5 persen ±1 persen agar daya beli masyarakat tetap terpelihara dan biaya pembiayaan lebih kondusif. Stabilitas itu menjadi fondasi agar pelaku usaha berani berekspansi dan lembaga keuangan memiliki ruang lebih besar menyalurkan pembiayaan produktif.

“Bank Indonesia kata Rizki, juga mendorong pengembangan UMKM melalui pendekatan yang terintegrasi dengan penguatan ekonomi syariah. Selain memperluas akses pasar, pembinaan diarahkan agar pelaku usaha mampu masuk ke rantai nilai halal, serta meningkatkan daya saing produk, dan memanfaatkan peluang ekspor,” tambahnya.

Pengamat ekonomi dan UMKM Universitas Hasanuddin, Andi Muhammad Nur Bau Massepe, menilai keberhasilan UMKM tidak dapat diukur hanya dari bertambahnya jumlah usaha, tetapi dari kemampuan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

“Saya menilai bahwa UMKM ini adalah salah satu motor penggerak perekonomian di Sulawesi Selatan,” katanya via telepon, Sabtu (5/9).

 

Menurut Andi Nur, pendampingan harus diarahkan agar pelaku usaha mampu menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Bank Indonesia perlu untuk mendampingi, membina UMKM kita ini agar tumbuh lebih besar, lebih maju. Tidak hanya dari sisi penghasilan tetapi produknya ini lebih tinggi nilainya sehingga impact-nya nanti bisa dirasakan bukan hanya kepada UMKM itu, tapi perputaran uangnya bisa bermanfaat dan berdampak secara luas di masyarakat,” ujarnya.

Namun, peningkatan kualitas produk saja belum cukup. Akses pembiayaan tetap menjadi tantangan ketika banyak UMKM belum memiliki kapasitas usaha yang memadai untuk memenuhi persyaratan lembaga keuangan.

Andi Nur menyebut, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi membutuhkan dukungan sektor riil dan pembiayaan yang sehat. Karena itu, perluasan kredit UMKM harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas usaha agar tetap menjaga prinsip kehati-hatian perbankan.

Chief Economist, The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip mengatakan, usaha yang bergerak di sektor fesyen dan wastra, rantai nilai halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi, tetapi juga kualitas produk, etika produksi, dan akses pasar.

“Halal lifestyle kini berkembang menjadi simbol kualitas, kebersihan, dan etika produksi yang diterima pasar global, tidak lagi terbatas pada kebutuhan konsumen Muslim. Dengan populasi Muslim dunia yang telah melampaui 2 miliar jiwa dan diproyeksikan mencapai 2,8 miliar jiwa pada 2050, permintaan terhadap produk halal diperkirakan terus meningkat.” katanya di Kuta-Bali, Kamis (27/08).

Peluang itu kata Sunarsip, hanya dapat dimanfaatkan apabila UMKM mampu memenuhi standar pasar, memperkuat kapasitas produksi, memanfaatkan pembiayaan secara produktif, serta membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x