

Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
RAMADHAN datang membawa kelapangan langit. Di dalamnya terbuka ruang ampunan luasโtinggal cara manusia menyambutnya.
Aku berdiri di titik sentral tarawih perdana di Masjid Raya Bukit Baruga, masjid di lingkungan tempatku bermukimโmembuka dakwah di halaman rumah sendiri. Ramadhan 1447 H terasa hangat meski hujan deras menggigilkan kompleks.
Shaf terisi penuh. Wajah berseri.
Pekan pertama, jamaah bersemangat 45, munajat menyala. Getarnya kurasakan dari jarak paling dekat.
Tahun-tahun sebelumnya menghadirkan pola sama. Aku menyaksikan antusiasme awal perlahan surut. Menjelang akhir, daya tahan spiritual โ๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จโ melemah. Ibadah berubah menjadi rutinitas; lelah fisik dan godaan dunia mengambil alih.
Padahal Ramadhan merupakan momentum pembenahan diri. Allah SWT membuka pintu ampunan tanpa sekat rumit. Kesempatan tak mengenal kelas sosial atau masa lalu. Kesungguhan mengharap ridha menjadi kunciโdan aku percaya setiap jiwa sebenarnya mampu.
Namun, aku juga menyaksikan kegelisahan lain. Sebagian orang menginginkan panen besar dalam waktu singkat. Kedalaman diganti kecepatan. Rakaat dikejar seperti target penyelesaian. Sujud dipadatkan agar agenda lekas selesai. Aku sering bertanya dalam diam: sempatkah ๐๐ข๐ญ๐ฃ๐ถ๐ฏ ๐๐ข๐ญ๐ช๐ฎ benar-benar hadir?
Manusia rela menunggu lama demi potongan harga di pusat perbelanjaan. Namun waktu untuk berlama-lama bersama Tuhan justru dipersingkat.
Bahkan, ada orang sebelum masuk masjid, sandal telah diarahkan ke luar โ๐๐ฆ๐ญ๐ฐ’ ๐๐ถ๐ฑ๐ฑ๐ฆ’ ๐๐ข๐ฅ๐ฅ๐ฆ’โ. Tubuh hadir, hati bersiap pergi. Pemandangan itu tidak asing bagiku.
Para muballigh menyuguhkan tausiyah dengan beragam pendekatanโseperti koki meracik kue dari Pisang: ๐๐ช๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฑ๐ฆ, ๐๐ข๐ญ๐ช๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ, ๐๐ข๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฐ, hingga ๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ณ๐ข ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ฐ๐ซ๐ช๐ฌ๐ฌ๐ถ ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ถ’ ๐๐ข๐ฎ๐ฆ’ ๐๐ช๐ฏ๐ฐ.
Rasa boleh berbeda, tujuan tetap sama: mengenyangkan jiwa lapar makna. Aku berdiri di mimbar membawa hidangan itu, berharap ada yang tinggal lebih lama untuk mencicipinya.
Ukuran โbaikโ perlahan bergeser. Ada orang menilai masjid dari singkatnya durasi shalat tarawih. Rakaat dipacu seperti mobil Panther melaju seratus kilometer per jam di Tol Layang A.P. Pettarani saat larut malam.
Imam belum selesai menarik napas, makmum sudah siap mengejar gerakan berikutnya. Sujud ๐๐ข๐ต๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ-๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ๐จโyang penting rampung. Selebihnya urusan malaikat pencatat amal.
Peristiwa di Blitar sempat menjadi contoh. Dua puluh tiga rakaat tarawih dituntaskan sekitar sepuluh menit. Jamaah belum tuntas melafalkan โaminโ, imam sudah meluncur ke sujud berikutnya. ๐๐ฆ๐ฌ๐ฌ๐ฆโ๐ฏ๐ข ๐๐ฐ๐ฏ๐ช ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฐโ.
Jika dihitung, satu rakaat hampir secepat berdiri menambah ๐๐ข๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฐ di Warkop Dg Anas.
Barangkali niatnya baikโmemberi kemudahan. Namun ketika kecepatan shalat tarawih menjadi ukuran utama, ruh ibadah tertinggal di belakang, terengah-engah mengejar catatan amal.


Tidak ada komentar