

Kabareditorial.com, Makassar — Rektor Universitas Patria Artha (UPA), Bastian Lubis, menyampaikan keberatan atas pemberitaan salah satu media online yang mencatut namanya dalam artikel berjudul “Appi Disebut tak Punya Etika Politik tidak Hadiri Konsolidasi Golkar di DPD Makassar” yang terbit pada Rabu (26/8/2026).
Bastian menegaskan, dirinya tidak pernah diwawancarai maupun memberikan pernyataan kepada media Kilas Info Terkini terkait pemberitaan mengenai Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau Appi.
“Saya tidak pernah sama sekali diwawancarai oleh media tersebut dan tidak pernah memberikan pernyataan seperti yang dimuat dalam berita itu,” tegas Bastian Lubis.
Ia juga menyayangkan pencantuman namanya dalam pemberitaan tersebut, terlebih karena terdapat penyebutan mengenai latar belakang kepakarannya yang menurutnya keliru.
Dalam berita tersebut, Bastian Lubis disebut sebagai “pengamat politik dan pemerintahan”. Menurut Bastian, penyebutan tersebut tidak sesuai dengan bidang kepakaran yang selama ini melekat pada dirinya.
“Saya adalah Ahli Keuangan Negara. Jadi, kalau disebut sebagai pakar atau pengamat politik dan pemerintahan, itu jelas keliru,” ujarnya.
Bastian mengatakan, dirinya selama ini banyak memberikan pandangan dan analisis terkait persoalan pengelolaan keuangan negara/ daerah dan tata kelola pemerintahan yang baik. Hal tersebut juga tercermin dalam sejumlah pemberitaan yang menempatkannya sebagai Ahli Keuangan Negara. ANTARA, misalnya, menyebut Bastian sebagai Pakar atau Ahli Keuangan Negara yang juga menjabat Rektor UPA.
Pihak Universitas Patria Artha juga mencantumkan Bastian Lubis sebagai Rektor dalam laman resmi universitas.
Karena itu, Bastian meminta media yang bersangkutan lebih berhati-hati dalam mencantumkan nama, pernyataan maupun latar belakang seseorang dalam sebuah pemberitaan.
Menurutnya, prinsip verifikasi dan konfirmasi merupakan bagian penting dalam kerja jurnalistik, terutama ketika sebuah berita menyangkut nama dan reputasi seseorang.
“Saya keberatan nama saya dicatut dalam pemberitaan tersebut. Kalau memang membutuhkan pernyataan atau pendapat saya, seharusnya dilakukan konfirmasi atau wawancara terlebih dahulu,” katanya.
Bastian berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan media dapat melakukan koreksi terhadap pemberitaan yang dinilainya telah mencantumkan informasi yang tidak pernah disampaikannya.
Ia menegaskan, klarifikasi tersebut disampaikan semata-mata untuk meluruskan informasi kepada publik agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai sikap, pernyataan maupun kapasitas dirinya.


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar