Putra Daerah “Penjaga Hutan Terbaik Dunia”, Akram Ista Kembali Diundang ke Forum Nasional oleh Lemhannas RI

Mardianto
3 Mei 2026 13:40
2 menit membaca

Nama Dr. Akram Ista, S.Sos., M.E., M.Pd  kembali muncul dalam percakapan banyak orang, terutama mereka yang mengikuti kiprahnya di dunia akademik. Bukan tanpa alasan. Ia baru saja menerima undangan mengikuti Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers/ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-37 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia.

Undangan itu bukan sekadar agenda seremonial. Program yang akan berlangsung pada 4 hingga 11 Mei 2026 di DKI Jakarta tersebut merupakan bagian dari upaya negara menyiapkan para akademisi sebagai penggerak nilai-nilai kebangsaan di ruang pendidikan dan masyarakat.

Akram menjadi satu dari sedikit peserta yang terpilih di tingkat nasional. Peserta program ini berasal dari berbagai latar, seperti dosen, pendidik, hingga widyaiswara dari institusi ternama di seluruh Indonesia. Proses seleksinya ketat, dengan penunjukan resmi yang tidak diberikan sembarangan.

Latar belakang Akram sebagai putra daerah  Desa Bontorannu, Kecamatan Kajang, suku dengan julukan ‘penjaga hutan terbaik di dunia’ tetap menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Ia adalah anak pertama dari pasangan Ismail dan Tanawali. Dari titik awal itulah, ia menempuh jalur pendidikan hingga akhirnya berkiprah sebagai akademisi.

Program ToT PPNK sendiri dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman, tetapi juga membentuk peran baru bagi para pesertanya. Mereka dibekali materi tentang Pancasila, wawasan kebangsaan, hingga ketahanan nasional, sekaligus strategi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diajarkan dan dihidupkan dalam praktik.

Di tengah perubahan sosial yang cepat, peran ini menjadi semakin relevan. Dunia pendidikan tidak lagi cukup hanya menyampaikan teori, tetapi juga perlu menghadirkan nilai sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Keikutsertaan Akram dalam program ini mencerminkan posisi akademisi daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari upaya yang lebih besar, menguatkan kembali fondasi kebangsaan melalui pendidikan.

Harapannya sederhana, namun penting. Pengalaman, jejaring, dan perspektif yang diperoleh selama pelatihan dapat dibawa kembali ke ruang-ruang yang ia geluti. Dari sana, nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi terus hidup dalam proses belajar dan interaksi sehari-hari.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x