

Kabareditorial.com, Makassar — Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah mulai memberi dampak terhadap berbagai sektor, termasuk di Indonesia. Namun di tengah kekhawatiran itu, sejumlah pelaku industri kendaraan listrik melihat situasi tersebut sebagai momentum untuk mempercepat transisi energi.
CEO PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), Hariyadi Kaimuddin, mengatakan perkembangan jaringan dealer BYD yang dikelola perusahaannya di kawasan Timur Indonesia menunjukkan pertumbuhan cepat dalam waktu relatif singkat.
Kurang dari dua tahun lalu, BYD Haka Karebosi di Makassar menjadi cabang pertama Haka Auto di kawasan tersebut. Setelah itu jaringan dealer terus bertambah di sejumlah kota di Sulawesi dan Kalimantan.
“Di Sulawesi sendiri, selain BYD Haka Karebosi, kami sudah meresmikan BYD Haka Palu, BYD Haka Kendari, dan BYD Haka Manado pada semester kedua 2025. Ini menunjukkan keseriusan kami mengembangkan pasar kendaraan listrik di kawasan Timur Indonesia,” kata Hariyadi dalam Halal Bihalal bersama awak media di kantor Haka Auto, Jl. Jenderal Ahmad Yani Makassar, Sabtu (28/03).
Secara keseluruhan, Haka Auto kini telah mengoperasikan sekitar 20 cabang hanya dalam waktu dua tahun sejak mulai beroperasi. Perusahaan memulai bisnis kendaraan listrik dengan tiga cabang, kemudian menambah jaringan secara agresif hingga mencapai jumlah tersebut pada akhir 2025.
Ekspansi jaringan masih akan berlanjut. Tahun ini perusahaan menargetkan jumlah cabang bertambah hingga sekitar 30 unit, dan dalam beberapa tahun ke depan ditargetkan mencapai sekitar 50 cabang.
Menurut Hariyadi, percepatan ekspansi dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan listrik. Ia menilai kehadiran cabang dan layanan purna jual menjadi faktor penting agar masyarakat bisa mencoba langsung kendaraan listrik sebelum memutuskan membeli.
“Mobil itu harus dicoba. Orang perlu merasakan langsung bagaimana bedanya. Setelah mencoba, biasanya orang bisa melihat sendiri kelebihan kendaraan listrik,” ujarnya.
Ia menyebut salah satu keunggulan utama mobil listrik terletak pada biaya operasional yang jauh lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar bensin. Biaya penggunaan kendaraan listrik, menurutnya, bisa hanya sekitar seperempat hingga seperlima dari biaya kendaraan konvensional.
Harga kendaraan listrik juga dinilai semakin kompetitif. Penurunan harga teknologi baterai serta dukungan kebijakan pemerintah membuat harga sejumlah model mobil listrik kini mulai mendekati mobil konvensional di kelas yang sama.
Selain memperluas jaringan di tingkat provinsi, Haka Auto juga mulai menyiapkan ekspansi ke tingkat kabupaten pada semester kedua tahun ini. Beberapa daerah di Sulawesi disebut sudah masuk dalam rencana pengembangan jaringan layanan.
Hariyadi menambahkan, perkembangan bisnis kendaraan listrik di kawasan Timur Indonesia juga dipengaruhi oleh dukungan pemberitaan media.
Menurutnya, pemberitaan yang informatif mengenai kendaraan listrik membantu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap teknologi baru tersebut.
“Pencapaian dan perkembangan BYD Haka di kawasan Timur Indonesia juga tidak lepas dari dukungan pemberitaan kawan-kawan jurnalis, khususnya di Makassar. Kami berterima kasih atas kontribusi tersebut,” kata Hariyadi.


Tidak ada komentar