Dari Masjid untuk Kemandirian Umat, Prodi KPI UIN Alauddin Hidupkan Pemberdayaan Warga Lewat Program Pengabdian Masyarakat

Mardianto
10 Feb 2026 22:22
4 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Pendingin ruangan bekerja lembut di dalam Masjid Hidayatullah Nur Ilahi, Jalan Abdullah Dg Sirua, Kota Makassar. Udara sejuk berpadu dengan aroma karpet khas masjid yang terhampar rapi. Puluhan jamaah duduk melantai, bersila dengan nyaman.

Ada yang menggenggam catatan kecil, mencoretkan poin-poin penting. Ada pula yang sesekali mengangkat telepon genggam, mengabadikan momen bukan sekadar dokumentasi, tetapi tanda antusiasme.

Di ruang yang tenang itu, percakapan tentang iman, kemandirian, dan masa depan umat mulai dirajut.

Hari itu, Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid. Sebuah tema yang terasa relevan, terlebih ketika masjid kerap dipersepsikan hanya sebagai ruang ibadah ritual, bukan pusat gerak sosial dan ekonomi.

Sesi pertama dibuka dengan siraman rohani oleh Dr. H. Sufkasman, S.Ag., M.Ag., M.H., M.Pd, da’i kondang asal UIN Alauddin. Dengan suara tenang dan pilihan kata yang membumi, ia mengajak jamaah menengok kembali fungsi masjid dalam sejarah Islam.

Masjid, menurutnya, bukan hanya tempat sujud, tetapi ruang lahirnya gagasan, solidaritas, dan peradaban. Jamaah menyimak dalam diam, sesekali mengangguk, seolah menemukan kembali makna yang selama ini terasa jauh.

Dari mimbar dakwah, gagasan kemudian bergerak ke ranah yang lebih praktis.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah expert lintas bidang. Muh. Nur Al Fauzan, S.Hum, entrepreneur muda di bidang pangan hidroponik, berbagi pengalaman memulai usaha dari skala kecil.

Juga hadir, Aldi Saputra, S.Hum, pegiat UMKM, mengupas pentingnya kemasan, konsistensi, dan keberanian memulai. Mardianto, S.Sos., M.I.Kom, praktisi penyiaran sekaligus pegiat media sosial, membimbing peserta memahami cara sederhana mempromosikan produk melalui media dan media sosial. Sementara Dra. Nurhayati, penggerak perempuan berdaya, mendorong peran aktif perempuan dalam ekonomi keluarga dan komunitas.

Bukan sekadar ceramah satu arah, kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar bersama. Para peserta diajak berdiskusi, bertanya, dan membayangkan peluang yang bisa diterapkan dari rumah masing-masing.

Ketua Prodi KPI FDK UIN Alauddin, Drs. Alamsyah, M.Hum, menegaskan bahwa pengabdian masyarakat adalah napas penting perguruan tinggi.

“Kami ingin masjid kembali menjadi pusat pemberdayaan umat, bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar dan bertumbuh,” ujar Alamsyah.

Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat.

“Ilmu yang kami kembangkan di kampus harus turun dan memberi dampak nyata. Inilah salah satu bentuk tanggung jawab akademik kami,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan berbasis masjid memiliki kekuatan sosial yang besar.

“Masjid adalah ruang yang paling dekat dengan umat. Ketika dakwah, ekonomi, dan komunikasi bertemu di masjid, dampaknya bisa sangat luas dan berkelanjutan,” tambahnya.

Kolaborasi antara Prodi KPI dan Majelis Taklim Masjid Hidayatullah Nur Ilahi menjadi kunci sukses kegiatan ini. Ketua Majelis Taklim, Hj. Mardiana Haruna, menyambut kegiatan tersebut dengan penuh antusias.

“Kami merasa sangat diperhatikan. Kegiatan ini bukan hanya menambah ilmu, tapi juga membuka wawasan jamaah,” ungkapnya.

Ia melihat langsung antusiasme para peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi.

“Ibu-ibu sangat senang karena materinya praktis. Ada dakwah, ada keterampilan, ada solusi,” katanya.

Menurut Hj. Mardiana, kegiatan semacam ini memberi makna baru bagi masjid.

“Kami berharap masjid ini benar-benar menjadi pusat pemberdayaan umat. Bukan hanya tempat berkumpul, tapi tempat lahirnya perubahan,” tuturnya.

Di sela-sela sesi coaching, terlihat beberapa peserta berdiskusi kecil, membayangkan rak hidroponik di halaman rumah, atau merancang promosi sederhana lewat media sosial. Catatan kecil semakin penuh coretan. Ponsel tak lagi hanya untuk mengambil gambar, tetapi juga mencatat ide.

Menjelang akhir kegiatan, suasana masjid tetap terasa hangat. Pendingin ruangan masih menyala, namun yang lebih terasa adalah semangat baru yang tumbuh di antara jamaah. Dari lantai masjid beralas karpet itu, gagasan tentang kemandirian ekonomi, dakwah yang membumi, dan pemanfaatan media modern perlahan disemai.

Pengabdian masyarakat Prodi KPI UIN Alauddin hari itu menjadi pengingat bahwa masjid bukan hanya ruang sunyi untuk berdoa, tetapi juga ruang hidup tempat ilmu dibagi, harapan dirawat, dan umat diberdayakan. Dari masjid, perubahan bisa dimulai, pelan namun pasti.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x