
Anty Nur berpose di depan kios kelontong miliknya yang kini menjadi pusat transaksi digital di Desa Borong Rappoa, Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sabtu (02/08). (Foto: Anto)“Warga datang untuk transfer uang, bayar cicilan, sampai beli pulsa. Semua lewat saya. Kalau dulu orang harus ke kota, sekarang cukup ke kios saya. Itu semua karena ada jaringan internet yang stabil” ujarnya.
Kabut tipis masih menggantung di lereng Kindang ketika matahari pagi perlahan menyingkap pepohonan rindang di Desa Borong Rappoa. Udara sejuk khas pegunungan bercampur wangi tanah basah setelah hujan semalam, menghadirkan ketenangan yang jarang ditemui di kota.
Di tengah suasana itu, sebuah kios kecil berdiri sederhana di tepi jalan aspal desa. Dari dalam kios, terdengar sapaan ramah pemiliknya kepada warga yang datang, entah untuk membeli gula, menitip pembayaran listrik, atau sekadar mengisi pulsa lewat layanan digital. Dialah Anty Nur, perempuan desa yang kini menjadi pusat transaksi modern di tengah lingkungan pedesaan yang masih asri.
Di rak-rak kayu, deretan barang kelontong tersusun rapi. Ada sabun, gula, minyak goreng, hingga jajanan anak-anak. Namun, kios itu kini bukan lagi sekadar tempat membeli kebutuhan sehari-hari.
Di sudut meja, tampak sebuah ponsel, mesin EDC, dan jaringan internet stabil yang selalu menyala. Dari sana, warga desa bisa membayar belanja dengan QRIS, mentransfer uang lewat BRI Link, hingga menebus gadai.
“Dulu saya hanya menjual kebutuhan kecil. Penghasilan pas-pasan, cukup untuk makan sehari-hari, tapi sejak ada HiFi Indosat, saya bisa buka layanan kayak mengirim atau menarik. Sekarang kios saya jadi tempat orang desa melakukan banyak transaksi,” kenang Anty Nur saat ditemui di kiosnya, Sabtu (02/08).

Dokumentasi warung kelontong milik Anty Nur, “Agam Cell”, sebelum bertransformasi menjadi pusat layanan transaksi digital di Desa Borong Rappoa, Kindang, Bulukumba. (Foto: Dok. Anty Nur)
Perjalanan Anty Nur bertransformasi dari pedagang kelontong kecil menjadi agen digital bukanlah hal yang instan. Ia memulai usahanya bertahun-tahun lalu dengan modal seadanya. Kini, berkat internet cepat, ia dipercaya sebagai agen BRI Link dan agen Pegadaian.
“Warga datang untuk transfer uang, bayar cicilan, sampai beli pulsa. Semua lewat saya. Kalau dulu orang harus ke kota, sekarang cukup ke kios saya. Itu semua karena ada jaringan internet yang stabil” ujarnya.
Ia menambahkan, teknologi membuatnya lebih percaya diri.
“Sekarang saya bisa melayani pembayaran dengan QRIS. Saya senang sekali bisa ikut membantu mereka belajar transaksi digital,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, perubahan itu sangat terasa.
“Setiap hari, saya bisa melayani 15 sampai 20 transaksi non-tunai. Dari transfer uang, top up e-wallet, sampai pembayaran tagihan listrik,” jelasnya.
Dengan suara bergetar, ia menyebut hidupnya kini jauh lebih baik.
“Kalau ditanya perubahan apa yang paling besar, saya bilang, dulu orang datang hanya beli minyak, sekarang mereka datang untuk layanan keuangan tanpa harus jauh-jauh ke kota,” tambah Anty.
Jarak dari kampung Anty ke kota Bulukumba, berkisar 20 kilo meter dengan jarak tempuh hingga setengah jam lamanya.
Visi Indosat, menyentuh desa dengan HiFi
Transformasi seperti yang dialami Anty Nur memang menjadi bagian dari visi besar Indosat Ooredoo Hutchison. Menurut Adiyanto Adhi Kusumo, SVP Head of Marketing Circle Kalisumapa, hadirnya HiFi Indosat bukan hanya untuk memperluas jaringan internet, tapi juga pemerataan ekonomi digital.
“Kami ingin memastikan bahwa internet cepat tidak hanya dinikmati masyarakat kota, tapi juga desa-desa terpencil seperti Borong Rappoa. HiFi Indosat adalah komitmen kami menghadirkan keadilan digital,” jelas Adi, sapaan akrabnya di kantor Indosat Wilayah Kalisumapa, Jl. Slamet Riyadi Kota Makassar, Selasa (19/08).

SVP Head of Marketing Circle Kalisumapa, Adiyanto Adhi Kusumo, saat diwawancarai sejumlah awak media di sela-sela acara Semarak Hari Kemerdekaan di Kantor Indosat wilayah Kalisumapa, Jalan Slamet Riyadi, Kota Makassar, Selasa (19/8). (Foto : Anto)
Adiyanto menegaskan, Indosat ingin menjadikan internet sebagai jalan masuk bagi UMKM desa naik kelas.
“Bukan sekadar jaringan, HiFi adalah alat transformasi. Bayangkan, kios kecil seperti milik Bu Anty bisa berubah menjadi pusat layanan keuangan. Itu bukti nyata bahwa teknologi mampu memberdayakan masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan rencana jangka panjang perusahaan.
“Kami sedang memperluas BTS dan fiber optik ke wilayah-wilayah yang belum tersentuh. Target kami, tidak ada lagi kesenjangan digital di Kalisumapa. Indosat hadir bukan hanya di kota besar, tapi di setiap pelosok di mana masyarakat membutuhkan konektivitas,” katanya.
Dari sisi akademis, Dr. Andi Nur Bau Massepe, pakar ekonomi dan UMKM Universitas Hasanuddin, menilai kehadiran internet berkecepatan tinggi di desa akan berdampak signifikan pada inklusi finansial dan pertumbuhan ekonomi lokal.
“Ketika masyarakat desa bisa mengakses layanan digital, uang tidak lagi berputar hanya di kota,” katanya. “Transaksi lewat QRIS, transfer, hingga e-wallet, membuat desa menjadi bagian dari ekosistem keuangan nasional,” jelasnya via telepon, Rabu (20/08).
Ia mencontohkan, pedagang desa yang punya akses internet bisa menjual produk hingga ke luar daerah.
“Inilah yang disebut inklusi ekonomi. UMKM desa bisa bersaing dengan pelaku usaha di kota. Internet menjadi penghubungnya,” ujarnya.
Perspektif Telematika, kesenjangan digital dan literasi
Namun, membangun infrastruktur saja tidak cukup. Prof. Judhariksawan, pakar telematika Universitas Hasanuddin, menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat bisa memanfaatkan internet secara optimal.
“HiFi Indosat adalah langkah besar mengurangi kesenjangan digital. Tapi jangan lupa, masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga produsen nilai dalam ekosistem digital,” jelasnya.

Pakar Hukum Telematika Unhas, Prof. Judhariksawan. (Dok. Pribadi)
Ia menegaskan, literasi digital harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.
“Kalau ada internet tapi tidak ada pengetahuan, maka manfaatnya terbatas. Tapi jika masyarakat paham, mereka bisa menggunakannya untuk memberdayakan diri, membuka usaha, bahkan meningkatkan kualitas pendidikan,” papar Prof. Jhuda, Rabu (20/08).
Menurutnya, keberlanjutan digitalisasi desa sangat bergantung pada sinergi.
“Pemerintah, akademisi, dan korporasi seperti Indosat harus bekerja sama. Infrastruktur, edukasi, dan keberlanjutan adalah tiga pilar utama,” katanya.
“Jangan sampai desa hanya jadi pasar digital. Harus ada keseimbangan, agar desa juga menjadi produsen dan pusat ekonomi baru. Itu tantangan besar kita ke depan,” pungkasnya.
Kisah Anty Nur menjadi bukti bahwa teknologi mampu mengubah hidup. Dari kios kelontong sederhana, ia menjelma menjadi pusat ekonomi digital desa. Semua berawal dari hadirnya HiFi Indosat yang membuka jalan bagi inklusi finansial.


Tidak ada komentar