Sinyal Lancar, Nyawa Terselamatkan: Kisah Perjuangan Bidan Nurjannah di Sidrap Berikan Layanan Prima Berkat Telkomsel

Mardianto
25 Agu 2025 23:57
6 menit membaca

Kabut tipis masih menyelimuti persawahan hijau di Dusun Penanong, Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Jumat (22/08/2025). Suasana kampung terasa asri dengan suara ayam berkokok dan anak-anak berlari kecil menuju sekolah.

Di tengah keseharian itu, seorang perempuan paruh baya bersepeda motor menyusuri jalan setapak. Dialah Nurjannah (54), bidan desa yang sejak 30 tahun lalu mendedikasikan hidupnya untuk kesehatan ibu dan anak di pelosok Sidrap.

Setiap hari, Nurjannah berkeliling dari door to door mengunjungi rumah warga, memberi edukasi tentang stunting, kesehatan ibu hamil, hingga pentingnya pola asuh bagi anak. Di balik dedikasinya, ada tantangan yang tak ringan, keterbatasan fasilitas dan jarak menuju puskesmas kecamatan yang mencapai 12 kilometer.

Namun kini, berkat dukungan jaringan komunikasi yang stabil, kisah perjuangan Nurjannah berubah. Ia bisa melaporkan data persalinan, mengakses informasi medis, hingga menghubungi ambulans dengan cepat.

Di poskesdes sederhana yang menjadi tempatnya bertugas, Nurjannah berbagi cerita.

“Kalau ada ibu hamil yang tiba-tiba kontraksi malam hari, saya harus cepat antar ke puskesmas. Tidak ada alasan. Urusan nyawa ini. Sekarang, tidak begitu rumit lagi, apalagi jaringan sudah lancar, saya bisa langsung koordinasi dengan tenaga medis di puskesmas, ini ada pasien bersalin saya mau bawa,” ucap Nurjannah sambil tersenyum, Jumat (22/8).

Ia mengakui, aturan baru yang melarang persalinan di poskesdes membuat tugasnya semakin berat.

“Dulu, warga bisa melahirkan di poskesdes, tapi sekarang harus di puskesmas. Aturannya begitu. Jadi, komunikasi yang cepat sangat penting. Sinyal telepon seluler jadi nyawa kedua bagi kami ini nakes,” jelasnya.

Bidan Nurjannah saat melakukan promosi kesehatan dan memberikan edukasi pola asuh anak kepada warga di Dusun Penanong, Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/08). (Foto: Anto)

Bidan Nurjannah saat melakukan promosi kesehatan dan memberikan edukasi pola asuh anak kepada warga di Dusun Penanong, Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/08). (Foto: Anto)

Baginya, teknologi komunikasi bukan lagi soal hiburan, tetapi menyangkut keselamatan nyawa.

“Kalau ada komplikasi, saya langsung kirim laporan dan konsultasi via WhatsApp. Kalau harus menunggu besok, bisa terlambat. Jadi setiap saat ini sangat membantu,” tuturnya.

Selain urusan medis, Nurjannah juga memanfaatkan jaringan digital untuk edukasi.

“Saya kirim video edukasi ke ibu-ibu tentang ASI eksklusif, gizi, dan pencegahan stunting. Mereka lebih cepat paham kalau ada contohnya,” katanya.

Meski usianya sudah tak muda, ia tetap bersemangat. Meskipun butuh waktu lama untuk bisa paham dengan penggunaan teknologi digital, namun ia bersyukur jaringan telkomsel bisa membantu meringankan pekerjaanya.

“Saya mungkin sudah 54 tahun, tapi teknologi ini membuat saya merasa tidak tertinggal. Yang penting sinyal lancar, tugas saya jadi lebih ringan,” ungkap Nurjannah.

Bidan Nurjannah saat melakukan promosi kesehatan dan memberikan edukasi pola asuh anak kepada warga di Dusun Penanong, Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/08). (Foto: Anto)

Bidan Nurjannah saat melakukan promosi kesehatan dan memberikan edukasi pola asuh anak kepada warga di Dusun Penanong, Desa Cipotakari, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/08). (Foto: Anto)

Salah satu warga yang kerap mendapat pendampingan dari Nurjannah adalah Ramlah (35), seorang ibu tiga anak.

“Kalau saya ada keluhan, cukup telepon Bu Bidan. Tidak perlu tunggu besok ketemu langsung,” ujarnya.

Ramlah merasakan manfaat besar saat melahirkan anak keduanya.

“Malam-malam saya sakit, langsung hubungi Bu Bidan. Beliau cepat datang dan bawa ke puskesmas. Kalau tidak ada jaringan, mungkin saya terlambat ditolong,” tuturnya.

Tak hanya itu, edukasi lewat grup WhatsApp desa juga membuat para ibu lebih melek informasi.

“Sekarang ada grup WA ibu hamil, jadi kalau ada informasi posyandu, vaksin, atau gizi anak langsung diumumkan. Kami jadi tidak ketinggalan,” tambah Rahmawati.

Baginya, sinyal bukan lagi soal bisa menonton hiburan, tapi menyangkut kesehatan keluarga.

“Bagi kami ini yang di desa, sinyal itu sama pentingnya kayak listrik. Tanpa sinyal, kami ini tidak tau apa – apa yang terjadi diluar,” katanya.

Ia juga berharap, akses jaringan makin diperluas hingga ke dusun-dusun yang lebih terpencil.

“Kalau bisa, jangan cuma di dusun Penanong. Banyak dusun lain masih susah sinyal. Semua ibu butuh akses cepat,” ujarnya.

Telkomsel, ‘Urat Nadi’ Pelayanan di Cipotakari

Kepala Desa Cipotakari, Zainal, turut menegaskan pentingnya infrastruktur komunikasi digital bagi pelayanan kesehatan di wilayahnya.

“Kami melihat langsung bagaimana Bu Jannah bekerja. Kalau sinyal tidak baik, beliau akan sangat kesulitan melaporkan kondisi darurat. Jadi jaringan yang lancar menyangkut keselamatan warga,” ungkap Zainal di kediamannya di Penanong Cipotakari, Jumat (22/08).

Menurutnya, keberadaan jaringan digital membuat koordinasi pelayanan publik jauh lebih efektif.

“Kalau dulu, laporan dari bu bidan bisa tertunda sampai besok. Sekarang, kapan saja. Kami di desa pun bisa lebih cepat menyampaikan informasi ke puskesmas maupun dinas kesehatan,” jelasnya.

Ia menekankan, layanan prima di desa hanya bisa berjalan jika didukung oleh akses komunikasi yang baik.

“Pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga administrasi desa, semuanya butuh jaringan. Kalau aksesnya lancar, masyarakat juga merasa lebih diperhatikan,” tambah Zainal.

Lebih jauh, ia menilai pemerataan sinyal adalah bagian dari hak warga desa.

“Masyarakat kota bisa akses internet cepat, harusnya desa juga bisa. Ini soal keadilan. Jangan ada lagi perbedaan hanya karena lokasi,” tegasnya.

Sebagai kepala desa, Zainal pun berharap pembangunan infrastruktur digital terus berlanjut hingga ke dusun-dusun yang lebih terpencil.

“Kami di Cipotakari merasakan manfaatnya. Tapi saya ingin semua dusun juga menikmati hal yang sama. Kalau jaringan lancar, desa kami bisa tumbuh lebih cepat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Rappang, Ns. Basri Sagga menekankan bahwa sinyal telekomunikasi bukan hanya soal kenyamanan, melainkan tulang punggung sistem kesehatan digital.

“Sinyal yang cepat memungkinkan bidan untuk melaporkan hasil skrining dan kondisi pasien secara langsung. Ini memastikan rujukan bisa dilakukan tanpa delay,” terangnya via telpon, Sabtu (23/08).

Ia juga menyoroti dampaknya pada pelayanan harian. Ia pun menekankan pentingnya sinyal sebagai simbol keadilan pelayanan

“Kalau jaringan putus, data skrining bisa tertunda diproses. Dengan sinyal lancar, tindakan medis berikut bisa segera direncanakan,” tambahnya.

Telkomsel, Pemerataan Akses Digital untuk Semua

Vice President Area Network Operations Telkomsel Pamasuka, Aris S. Utomo, menjelaskan bahwa kehadiran Telkomsel di desa-desa pelosok tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi lintas pihak.

“Kehadiran site Non-3T ini juga menjadi bagian dari semangat Telkomsel untuk terus Majukan Indonesia melalui pemerataan akses digital. Dengan teknologi 2G/4G, diharapkan masyarakat Desa Harapan dapat menikmati layanan komunikasi dan internet yang lebih baik, membuka peluang baru dalam pendidikan, ekonomi, dan sosial,” jelas Aris melalui siaran pers resminya, Senin (4/8/2025).

Menurutnya, kolaborasi antara Telkomsel dengan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah menjadi kunci agar masyarakat di daerah 3T merasakan manfaat digitalisasi secara nyata.

“Jaringan bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi hak yang harus dinikmati seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali,” tambah Aris.

Ia menekankan, kehadiran jaringan juga merupakan bentuk keberpihakan Telkomsel terhadap pemerataan pembangunan.

“Dengan sinyal yang merata, desa-desa tidak hanya terkoneksi, tapi juga berdaya. Kami ingin melihat lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di pelosok,” lanjutnya.

Lebih jauh, Aris menyebut bahwa teknologi digital yang dihadirkan akan memberi dampak lintas sektor.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x