

Kabareditorial.com, Makassar — Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menegaskan komitmen tegas kampus dalam menjamin keberlanjutan studi mahasiswa, khususnya dari sisi pembiayaan. Ia memastikan tidak boleh ada mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah hanya karena kendala finansial.
“Tidak boleh ada satu pun mahasiswa Unhas yang berhenti kuliah hanya karena alasan biaya. Ini komitmen yang tidak bisa ditawar,” tegasnya dalam sambutan usai pelantikan dirinya sebagai Rektor UNHAS periode kedua, Senin (27/04).
Menurutnya, meski secara institusi memiliki keterbatasan sumber daya, Unhas membuka ruang kolaborasi luas dengan berbagai pihak untuk memastikan akses pendidikan tetap terjaga. Skema dukungan tersebut tidak hanya berasal dari internal kampus, tetapi juga melalui jejaring mitra dan donatur.
“Memang kami tidak selalu dalam posisi berlimpah secara finansial, tetapi kami memiliki jejaring yang kuat. Banyak pihak yang siap membantu, dan ini menjadi kekuatan bersama untuk memastikan mahasiswa tetap bisa melanjutkan studi,” ujarnya.
Komitmen tersebut tercermin dari capaian penyaluran beasiswa dalam empat tahun terakhir. Sejak 2022 hingga 2026, Unhas telah menyalurkan bantuan pendidikan kepada sekitar 40 ribu mahasiswa. Saat ini, sekitar 28 persen dari total mahasiswa merupakan penerima beasiswa, melampaui standar minimal nasional sebesar 20 persen.
Angka tersebut menunjukkan penguatan kebijakan pendidikan inklusif yang terus didorong kampus, sekaligus menjadi indikator bahwa akses pendidikan tinggi masih dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Di sisi lain, Rektor juga menyoroti penguatan sumber daya manusia sebagai bagian dari reformasi internal. Pada 2025, Unhas melakukan pengangkatan sekitar 730 pegawai tetap sebagai langkah strategis dalam membangun sistem manajemen SDM yang lebih stabil dan berkeadilan.
“Langkah ini kami ambil untuk memastikan sistem kerja yang lebih tertata, sekaligus memberikan kepastian karier bagi tenaga kependidikan,” jelasnya.
Meski mencatat berbagai capaian, Jompa menilai transformasi Unhas masih jauh dari selesai. Ia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global, mulai dari ketahanan pangan, transisi energi, hingga perkembangan kecerdasan buatan.
“Unhas tidak boleh hanya menjadi penonton. Kampus harus hadir memberikan solusi nyata atas berbagai persoalan strategis,” katanya.
Dalam konteks penguatan riset, Unhas telah mengonsolidasikan kekuatan akademiknya melalui 315 kelompok riset tematik (Thematic Research Group/TRG) yang melibatkan lebih dari 1.500 peneliti internal serta ratusan mitra internasional.
Ke depan, arah kebijakan riset akan difokuskan pada integrasi lintas disiplin dan kolaborasi global, guna meningkatkan kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pembangunan.
“Riset tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Harus terintegrasi, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman,” pungkasnya.


Tidak ada komentar