Kabareditorial.com, Makassar — Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyiapkan langkah besar dalam memperkuat sistem kekarantinaan nasional melalui modernisasi laboratorium secara menyeluruh dengan nilai investasi mencapai Rp4 triliun hingga Rp5 triliun.
Kepala Barantin, Sahat Manaor Panggabean, menegaskan bahwa pembenahan tersebut menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kecepatan layanan, transparansi, serta kesetaraan standar laboratorium Indonesia dengan negara maju.
“Laboratorium adalah senjata utama karantina untuk bertempur. Karena itu, kami akan melakukan modernisasi menyeluruh, mulai dari peralatan hingga fasilitasnya,” ujar Sahat saat kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI di Sulawesi Selatan, Kamis (23/4).
Ia menyebutkan, target modernisasi seluruh laboratorium karantina di Indonesia ditetapkan rampung pada 2027, mencakup wilayah dari Sabang hingga Papua. Pembenahan tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga sistem layanan dan penguatan sumber daya manusia.
“Semua akan kita rapikan, mulai dari alat, gedung, sistem layanan yang terintegrasi, hingga SDM. Jangan sampai alatnya canggih, tapi SDM-nya tidak siap,” tegasnya.
Selain modernisasi fisik, Barantin juga menekankan transformasi sistem layanan berbasis digital yang telah terintegrasi dengan negara mitra. Sistem ini memungkinkan proses verifikasi dokumen dilakukan sebelum barang tiba di Indonesia, sehingga mempercepat proses layanan di lapangan.
“Sistem layanan karantina sudah berbasis digital dan terkoneksi dengan negara mitra. Untuk kategori risiko rendah, proses layanan bisa selesai dalam 6 sampai 7 jam, sepanjang dokumen lengkap,” jelasnya.
Menurut Sahat, digitalisasi ini menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi sekaligus meminimalkan potensi penyimpangan dalam proses karantina, baik untuk komoditas impor maupun ekspor.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menilai peran karantina sangat strategis sebagai garda terdepan dalam pengawasan lalu lintas komoditas nasional, khususnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
“Badan Karantina ini adalah garda terdepan dalam pengamanan barang masuk dan keluar, baik impor maupun ekspor. Perannya sangat strategis dan perlu didukung penuh,” ujarnya.
Namun demikian, ia menyoroti keterbatasan fasilitas yang ada saat ini yang dinilai belum sebanding dengan luas wilayah Indonesia dan kompleksitas tugas karantina.
“SDM-nya sudah bagus dan profesional, tapi fasilitasnya masih perlu ditingkatkan. Untuk negara sebesar Indonesia, ini belum memadai,” katanya.
Komisi IV DPR RI, lanjutnya, akan memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan Barantin, termasuk dalam aspek anggaran dan skema pembiayaan seperti pinjaman (loan), dengan tetap memastikan penggunaannya tepat sasaran dan sesuai mekanisme.
Dengan rencana modernisasi laboratorium, digitalisasi layanan, serta penguatan pengawasan, Barantin menargetkan sistem kekarantinaan nasional menjadi lebih cepat, transparan, dan berstandar internasional dalam beberapa tahun ke depan.
Tidak ada komentar