OJK Dorong Pembiayaan Kakao Lewat Program PED, Sulawesi Jadi Fokus Utama

Mardianto
15 Agu 2025 14:06
2 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Indonesia menempati posisi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dengan kontribusi sekitar 642 ribu ton per tahun. Produksi tersebut didominasi oleh wilayah Sulawesi yang menyumbang sekitar 60 persen, dengan lahan terluas berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

Berdasarkan data 2024, kebutuhan kakao global mencapai 5,76 juta ton. Potensi ekspor dari Indonesia, khususnya dari Sulawesi, masih sangat besar.

Di Sulawesi saja terdapat 780.622 petani kakao, atau 44,02 persen dari total petani kakao nasional. Meski demikian, tantangan produktivitas masih membayangi, mulai dari keterbatasan lahan, kualitas produksi, hingga fluktuasi harga yang mengikuti pergerakan pasar global.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, Mochammad Muchlasin, mengatakan bahwa rendahnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan teknologi modern menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.

“Saat ini, belum semua petani kakao di Indonesia menerapkan GAP dan teknologi yang memadai. Di Sulawesi, hanya 7,81 persen petani kakao yang tercatat sebagai debitur perbankan. Artinya, akses mereka terhadap pembiayaan formal masih sangat terbatas,” ujar Muchlasin di Makassar, Kamis (14/8/2025).

Sebagai langkah strategis, OJK bersama pelaku usaha dan perbankan meluncurkan Program Ekosistem Digital (PED) Kakao. Program ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok, meningkatkan akses pembiayaan, serta memperluas pasar produk kakao nasional.

Salah satu implementasinya adalah kerja sama antara PT MARS dan Bank BRI dengan skema khusus post financing atau supply chain financing. Skema ini menempatkan pengepul sebagai agen Laku Pandai (BRILink) sekaligus mitra pembiayaan. Tercatat ada potensi pembiayaan untuk 60 pengepul dan 5.000 petani mitra PT MARS.

Selain itu, Bank Mandiri juga menjalin kemitraan dengan PT Bumi Surya Selaras (BSS) yang bergerak di sektor kakao di Kabupaten Polewali Mandar. Kerja sama ini berpotensi membiayai 7.406 petani kakao yang tersebar di Kabupaten Mamuju Tengah, Mamuju, Polewali Mandar, Majene, dan Mamasa.

Muchlasin optimistis, melalui sinergi ini, petani akan mendapatkan manfaat nyata, mulai dari peningkatan produktivitas hingga kestabilan pendapatan.

“Sulawesi adalah pusat produksi kakao nasional. Dengan integrasi pembiayaan dan dukungan teknologi, kita bisa mendorong kualitas kakao yang mampu bersaing di pasar global. Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kesejahteraan petani,” tegasnya.

Dengan potensi besar dan dukungan pembiayaan yang terarah, program PED Kakao diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam industri kakao dunia, sekaligus mengangkat taraf hidup petani di daerah penghasil utama.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x