

Kabareditorial.com, Makassar — PT Pegadaian (Persero) memperkuat manajemen risiko untuk menjaga kualitas pembiayaan di tengah dinamika harga emas. Langkah tersebut menjadi penting karena sekitar 90 persen kredit Pegadaian berbasis agunan emas.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah (Kanwil) VI SulSelBarRa Maluku, Pratikno, mengatakan pengelolaan risiko dilakukan melalui sistem enterprise risk management yang diterapkan secara berjenjang.
“Di Pegadaian kami mempunyai tata kelola terkait dengan manajemen risiko enterprise,” kata Pratikno dalam media gathering Pegadaian, Senin (7/9).
Menurut Pratikno, harga emas yang menjadi acuan dalam menentukan besaran pinjaman kepada nasabah tidak ditetapkan tanpa melalui kajian. Pegadaian memiliki tim ahli di kantor pusat yang melakukan analisis harga emas setiap hari.
Hasil kajian tersebut kemudian menjadi rekomendasi kepada jajaran direksi untuk menentukan harga emas yang digunakan sebagai acuan dalam pemberian pinjaman.
“Pada saat hari ini misalnya, harga emas yang kita jadikan pedoman, patokan untuk memberikan pinjaman kepada nasabah itu berdasarkan kajian dari tim yang ekspert,” ujarnya.
Pengelolaan risiko juga dilakukan melalui struktur manajemen risiko yang mencakup sejumlah aspek. Di tingkat kantor pusat, terdapat fungsi yang menangani risiko operasional, risiko kredit, dan kepatuhan.
“Direktur risikonya ada sampai kepala divisi yang membidangi risiko. Ada risiko operasional, risiko kredit, kepatuhan,” kata Pratikno.
Selain di kantor pusat, fungsi manajemen risiko juga terdapat di tingkat kantor wilayah melalui Departemen Manajemen Risiko. Struktur tersebut menjadi bagian dari mekanisme pengawasan sebelum kebijakan diterapkan dalam operasional perusahaan.
“Di kantor wilayah juga ada, namanya Departemen Manajemen Risiko. Sehingga kebijakan yang kami keluarkan itu sudah melalui kajian,” ujarnya.
Pratikno mengatakan Pegadaian juga melakukan analisis prediktif untuk mengantisipasi potensi perubahan kondisi pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Analisis tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memetakan potensi risiko dan menyiapkan langkah mitigasi sebelum risiko tersebut berdampak terhadap kinerja perusahaan.
“Analisa prediktif kami untuk beberapa bulan yang akan datang, kami lakukan. Sehingga potensi-potensi kerugian itu sudah termitigasi dengan baik,” katanya.
Menurut Pratikno, pendekatan tersebut membuat perubahan kondisi pasar tidak hanya direspons ketika risiko telah terjadi. Berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi bisnis telah menjadi bagian dari perencanaan dan pengelolaan risiko perusahaan.
“Artinya bahwa kondisi yang sekarang itu sudah kita pikirkan jauh bulan sebelumnya,” pungkasnya.


Tidak ada komentar