

Kabareditorial.com, Makassar — Pembinaan pesepak bola usia dini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan anak di lapangan. Peran orang tua dan lingkungan juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah seorang anak bisa terus berkembang atau justru berhenti di tengah jalan.
Hal tersebut disampaikan mantan pemain Timnas Indonesia yang kini aktif sebagai football manager sekaligus coach, Indriyanto Nugroho, saat terlibat dalam program Khong Guan Superco Supercamp Superfest 2026 di Makassar.
Indriyanto mengatakan, sejak terlibat dalam pembinaan sepak bola di Jakarta pada 2014, ia kerap menemukan persoalan yang sama. Ada anak yang memiliki minat besar terhadap sepak bola, tetapi tidak mendapatkan dukungan dari orang tua. Sebaliknya, ada pula orang tua yang begitu ingin anaknya menjadi pesepak bola meski sang anak tidak memiliki minat atau kemampuan yang memadai.
“Ini problem antara orang tua dan anak. Ada anak yang suka banget dengan sepak bola, tapi orang tuanya tidak mendukung. Kemudian ada juga anaknya tidak mampu, tetapi orang tuanya yang ingin,” ujar Indriyanto.
Menurutnya, orang tua perlu melihat kemampuan dan minat anak secara objektif. Pada usia 9 hingga 10 tahun, kemampuan dasar dan ketertarikan anak terhadap sepak bola mulai dapat diamati melalui proses latihan dan kompetisi.
Karena itu, ia meminta orang tua tidak memaksakan anak untuk menekuni sepak bola hanya karena ambisi pribadi.
“Jangan memaksakan anak yang memang tidak mampu atau tidak punya bakat untuk bermain bola. Kita sebagai orang tua harus tahu arahnya ke mana,” katanya.
Di sisi lain, Indriyanto juga mengingatkan agar orang tua tidak buru-buru menghentikan anak yang memang memiliki minat dan kemauan kuat terhadap sepak bola.
Ia berkaca pada pengalaman pribadinya ketika masih kecil. Menurutnya, dukungan lingkungan dan kemauan dari dalam diri menjadi faktor yang membuat dirinya tetap bertahan hingga akhirnya berkarier di sepak bola.
“Dulu orang tua saya, terutama mama, juga pernah bilang sudah tidak usah mencoba. Tapi karena kemauan dari kita yang membuat saya bisa seperti ini,” ungkapnya.
Lingkungan dan Kompetisi Berjenjang
Indriyanto menilai lingkungan menjadi bagian penting dalam membentuk perjalanan seorang pesepak bola muda. Menurutnya, anak-anak yang memiliki potensi harus berada dalam lingkungan yang memberikan ruang untuk berlatih dan bertanding secara konsisten.
Ia mencontohkan sejumlah kompetisi usia dini yang selama ini berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Menurutnya, kompetisi dengan sistem yang berjenjang dapat membantu pemain muda membangun pengalaman sejak usia 9, 10, 11 hingga 13 tahun.
“Kenapa hanya Jabodetabek yang bisa membuat sistem seperti itu? Padahal di sini banyak pihak swasta. Ada Bosowa, mungkin juga ada Kalla. Kenapa tidak bisa menyiapkan wadah?” ujarnya.
Menurut Indriyanto, potensi talenta sepak bola di daerah sebenarnya tidak kalah dibandingkan wilayah lain. Persoalannya adalah bagaimana talenta tersebut mendapatkan jalur kompetisi yang jelas dan berkelanjutan.
Ia mencontohkan pemain-pemain muda dari Palu yang memiliki potensi untuk mengikuti kompetisi di tingkat nasional.
“Talenta-talenta dari Palu dan daerah lain sebenarnya mau ke Jakarta. Potensinya sudah ada. Tinggal bagaimana sinergitas pemerintah dan pihak swasta untuk bisa membuat kompetisi yang berjenjang,” katanya.
Menurutnya, kompetisi berjenjang akan memberikan pengalaman kepada anak-anak sekaligus membantu proses pemantauan bakat secara lebih terukur.
“Kalau sudah disiapkan kompetisi yang berjenjang, perjalanan mereka jelas. Mulai usia 9, 10, 11, 12, sampai 13 tahun. Dari situ talenta-talenta bisa terlihat dan berkembang,” ujar Indriyanto.
Ia berharap semakin banyak daerah di Indonesia, termasuk Makassar, memiliki sistem pembinaan dan kompetisi usia dini yang terstruktur. Dengan begitu, anak-anak berbakat tidak harus selalu berpindah ke Jakarta untuk mendapatkan kesempatan bertanding di level yang lebih tinggi.
Bagi Indriyanto, pembinaan sepak bola usia dini pada akhirnya bukan hanya soal mencari pemain berbakat, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu menjaga dan mengembangkan bakat tersebut.
“Potensinya sebenarnya ada. Tinggal bagaimana sinergitas dari pemerintah dan pihak swasta untuk bisa membuat kompetisi yang berjenjang,” tutupnya.


Tidak ada komentar