
Sudirman H. Nadir tengah melayani seorang konsumen di warung kelontong miliknya di Dusun Tujuang, Desa Mattirowalie, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Jumat (1/8). Berkat jaringan internet Indosat, Sudirman kini dapat melayani transaksi non-tunai dan mengembangkan usahanya hingga menjadi agen BRILink. (Foto: Anto)“Awalnya saya tidak pernah berpikir bisa sampai seperti ini. Warung ini dulu kecil sekali, kadang hanya cukup buat sekadar bertahan hidup. Tapi sejak jaringan internet Indosat lancar masuk di kampung kami, saya bisa coba-coba jualan lewat aplikasi, bahkan buka layanan BRI Link. Alhamdulillah, sekarang rezeki lebih lancar,” kata Sudirman, Jumat (01/08).
Pagi itu, Dusun Tujuang di Desa Mattirowalie masih diselimuti embun tipis. Udara sejuk khas pegunungan Kindang menusuk lembut, membuat napas terasa segar.
Di kejauhan, ayam jantan bersahutan dengan deru motor yang mulai melintas jalan desa. Perlahan suasana kampung yang asri itu kian ramai, ketika warga satu per satu keluar rumah menuju ladang, sekolah, atau sekadar jalan pagi.
Di tepi jalan desa, sebuah warung sederhana berdiri dengan papan bertuliskan “Kios Irsyad Suras & BRI Link”.
Di balik meja kayu itu, Sudirman H. Nadir, lelaki paruh baya, tampak sibuk melayani pelanggan yang datang bergantian, ada yang membeli kebutuhan rumah tangga, ada pula yang ingin membayar listrik lewat layanan BRI Link.
Dulu, warung itu hanya menjual barang seadanya. Beberapa bungkus mi instan, kopi, gula, dan minyak goreng menjadi dagangan utama. Namun kini, rak-rak warung penuh dengan beragam kebutuhan sehari-hari, mulai dari kebutuhan dapur, jajanan anak-anak, hingga kebutuhan rumah tangga lain.
Bahkan, Sudirman sudah dipercaya warga sebagai agen BRI Link, tempat mereka bisa bertransaksi non tunai, tarik tunai, hingga transfer uang.
“Awalnya saya tidak pernah berpikir bisa sampai seperti ini. Warung ini dulu kecil sekali, kadang hanya cukup buat sekadar bertahan hidup. Tapi sejak jaringan internet Indosat lancar masuk di kampung kami, saya bisa coba-coba jualan lewat aplikasi, bahkan buka layanan BRI Link. Alhamdulillah, sekarang rezeki lebih lancar,” kata Sudirman, Jumat (01/08).
Ia mengaku, akses internet membuka jalan baru bagi usahanya. Dulu kata dia, untuk mendapat jaringan, warga harus ke pojokan lapangan yang tak jauh dari rumahnya.
“Sekarang orang bisa belanja di sini pakai QRIS atau transfer. Tidak lagi repot cari uang tunai. Saya juga bisa stok barang lebih banyak karena tahu permintaan warga lewat grup WhatsApp. Semua ini karena ada sinyal yang bagus,” tambahnya.

Sudirman H. Nadir berpose di depan warung kelontong miliknya di Dusun Tujuang, Desa Mattirowalie, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Jumat (1/8). Kehadiran jaringan internet Indosat membuat Sudirman mampu memperluas usahanya dan melayani transaksi digital bagi warga sekitar. (Foto : Anto).
Sudirman menyebut, hidupnya berubah bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga cara ia melayani pelanggan.
“Kalau dulu, orang harus jauh-jauh ke kota untuk setor uang, sekarang tinggal ke warung saya. Saya merasa ikut membantu masyarakat, bukan hanya berdagang,” ujarnya penuh kebanggaan.
Ia berharap, sinyal internet di desanya terus ada, malah lebih kuat lagi. Supaya orang di desa tidak tertinggal dari orang di kota.
“Dulu warung saya kecil, hanya ada mi instan dan gula. Sekarang sudah bisa jadi tempat bayar listrik, tarik tunai, sampai belanja pakai QRIS,” tambahnya.
Cerita Sudirman, menurut SVP Head of Marketing Circle Kalisumapa, Adiyanto Adhi Kusumo, adalah bukti nyata bagaimana jaringan telekomunikasi membawa dampak langsung bagi masyarakat.
“Terus-menerus ya untuk meningkatkan cakupan, coverage maupun kualitas jaringan, tidak hanya di Indonesia Timur tapi juga di wilayah lainnya seperti di Jawa, Sumatera, dan tentunya Kalisumapa. Jadi itu sesuatu yang rutin,” jelas Adiyanto di Kantor Indosat Wilayah Kalisumapa, Jl. Slamet Riyadi Kota Makassar, Selasa (19/08).

SVP Head of Marketing Circle Kalisumapa, Adiyanto Adhi Kusumo, saat diwawancarai sejumlah awak media di sela-sela acara Semarak Hari Kemerdekaan di Kantor Indosat wilayah Kalisumapa, Jalan Slamet Riyadi, Kota Makassar, Selasa (19/8). (Foto : Anto)
Ia menegaskan, setiap tahun selalu ada ekspansi jaringan, termasuk penambahan BTS di wilayah pelosok. Saat ini, cakupan jaringan Indosat sudah mencapai sekitar 94 persen populasi nasional.
“Kalau khusus kemerdekaan tidak ada penambahan BTS, karena itu kan sudah diprogram sebelumnya. Tapi tiap tahun pasti ada ekspansi jaringan. Itu komitmen kami,” katanya.
Lebih dari sekadar infrastruktur, Indosat kata Adiyanto menempatkan pembangunan jaringan sebagai strategi mendorong pemerataan ekonomi digital. Dengan adanya akses internet sampai ke pelosok-pelosok, masyarakat bisa menggunakan layanan untuk transaksi komersial.
“Produksi lokal bisa dipasarkan tidak hanya untuk Sulawesi, tapi juga ke pulau-pulau lain. Itu membantu perekonomian, dan itulah visi kami untuk empowering Indonesia. Kami percaya, akses internet di pelosok mampu membuka peluang ekonomi baru. Itu bagian dari kontribusi Indosat untuk memperkuat bangsa,” tegasnya.

Seorang customer service (CS) Indosat melayani pasangan lansia di Kantor Indosat wilayah Kalisumapa, Jalan Slamet Riyadi, Kota Makassar, Selasa (19/8). Layanan pelanggan ini menjadi bagian dari komitmen Indosat dalam memberikan kemudahan akses komunikasi bagi seluruh lapisan masyarakat. (Foto : Anto)
Ekonomi digital, dari warung desa ke pasar lebih luas
Pakar ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, peningkatan penjualan karena faktor internet bagi pelaku usaha kecil merupakan refleksi dari dampak ekonomi digital yang kini menjangkau masyarakat lapisan bawah.
“Telekomunikasi itu ibarat jalan raya. Begitu akses internet masuk desa, pasar langsung terbuka. UMKM yang tadinya hanya melayani pelanggan sekitar bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Prof. Hamid, Selasa (05/08).
Guru Besar Ilmu Ekonomi Unhas itu menekankan, layanan digital juga mendorong inklusi finansial.
“Dengan adanya QRIS, transfer bank, dan dompet digital, masyarakat desa bisa ikut menikmati kemudahan transaksi. Ini mempercepat pertumbuhan ekonomi karena uang berputar lebih cepat dan efisien,” katanya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu. (Foto: Ist)
Menurutnya, transformasi digital di desa akan meningkatkan produktivitas.
“Petani bisa tahu harga gabah di Makassar, nelayan bisa mengecek cuaca sebelum melaut, dan pedagang bisa menyimpan catatan keuangan secara digital. Semua ini berkat jaringan yang kini tersedia lebih merata,” imbuhnya.
Transformasi sosial, dari gaya hidup hingga literasi digital
Namun, perubahan ini tidak hanya berhenti pada aspek ekonomi. Pengamat sosial UIN Alauddin, Aguswandi melihat internet membawa transformasi besar pada gaya hidup masyarakat desa.
“Sekarang kita lihat, di kabupaten-kabupaten atau daerah non kota besar, anak-anak belajar lewat YouTube, ibu-ibu jualan lewat WhatsApp, bapak-bapak mengecek harga komoditas lewat HP. Itu mengubah cara mereka melihat hal-hal diluar lingkungannya,” ungkap Aguswandi.
Meski begitu, ia mengingatkan soal kesenjangan digital.
“Ada desa yang sinyalnya bagus, ada juga yang masih harus naik bukit cari jaringan. Kesenjangan seperti ini harus diatasi, agar pembangunan digital tidak menimbulkan ketimpangan baru,” katanya.
Literasi digital, menurutnya, sama pentingnya dengan infrastruktur. Internet membuka peluang, tapi juga risiko.
“Hoaks, penipuan online, sampai adiksi game bisa jadi masalah. Maka pendidikan literasi digital sangat penting supaya masyarakat bisa menggunakan internet secara sehat,” tutupnya.
Aguswandi menyebut, kisah Sudirman menjadi cermin perubahan zaman di desa dan pelosok. Warung sederhana yang dulu hanya berisi mi instan dan gula, kini menjelma sebagai pusat layanan masyarakat sekaligus pintu menuju ekonomi digital.


Tidak ada komentar