OJK Luncurkan OJK PEDULI, Bentuk Duta Literasi Keuangan di Sulawesi Selatan

Mardianto
10 Mei 2025 01:43
3 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat resmi meluncurkan program OJK PEDULI (OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia), sebuah inisiatif nasional untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan kepada masyarakat melalui pendekatan komunitas dan pemberdayaan individu sebagai agen perubahan.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Mochammad Muchlasin, menjelaskan bahwa OJK PEDULI merupakan gerakan strategis dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang keuangan, investasi, serta perlindungan konsumen jasa keuangan.

“Program ini adalah gerakan nasional untuk memperluas pemahaman keuangan melalui efek berantai. Setiap duta akan menjadi agen edukasi di komunitasnya,” ujarnya dalam kegiatan Jurnalis Update OJK Sulselbar 2025, Jumat (9/5).

Program OJK PEDULI dirancang untuk melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, pelaku usaha jasa keuangan (PUJK), hingga masyarakat umum di daerah. Melalui program ini, setiap peserta akan mendapatkan pelatihan dasar dan modul literasi keuangan yang dikembangkan oleh OJK, serta diarahkan untuk melakukan kegiatan Training of Community di lingkungannya masing-masing.

“Kami menargetkan terbentuknya duta literasi dari seluruh segmen masyarakat, termasuk kelompok prioritas seperti pelajar, pekerja migran, pelaku UMKM, dan penyandang disabilitas,” jelas Muchlasin.

Lebih lanjut, Muchlasin menyampaikan bahwa OJK PEDULI memiliki visi besar membentuk ‘One Village, One Education Ambassador’ atau satu duta literasi di setiap desa dan kelurahan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dengan pola ini, diharapkan lahir jejaring edukator keuangan yang masif dan berkelanjutan di seluruh wilayah.

“Kami ingin melahirkan satu duta literasi di setiap desa sebagai penggerak edukasi dan pemberdayaan finansial masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengenal produk keuangan, tapi juga memahami cara mengelolanya secara bijak,” katanya.

Program ini dijalankan dengan sistem Learning Management System Edukasi Keuangan OJK (LMSKU) yang dapat diakses melalui laman www.lmsku.ojk.go.id. Calon duta literasi keuangan diwajibkan menyelesaikan minimal satu modul pembelajaran dan dinyatakan lulus melalui sertifikat elektronik (e-certificate). Setelah terdaftar, setiap duta wajib melaksanakan kegiatan edukasi bulanan yang dilaporkan melalui sistem monitoring OJK.

“OJK PEDULI tidak hanya berhenti pada pelatihan. Kami memantau aktivitas para duta melalui sistem pelaporan digital agar setiap edukasi benar-benar berdampak di lapangan,” tambah Muchlasin.

Selain itu, OJK juga mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas sosial, dan lembaga jasa keuangan untuk menjadi Koordinator OJK PEDULI di wilayah masing-masing. Para koordinator bertanggung jawab dalam pembinaan, pelaporan, serta mendorong inovasi kegiatan edukatif di bidang keuangan.

Menurut Muchlasin, OJK PEDULI diharapkan dapat mempercepat pencapaian target nasional indeks inklusi keuangan 98 persen pada tahun 2045, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh masyarakat, tanpa terkecuali, memiliki akses terhadap lembaga keuangan yang legal, aman, dan berpihak pada kesejahteraan,” tegasnya.

Hingga Mei 2025, OJK Sulselbar telah mulai membuka pendaftaran duta literasi keuangan melalui laman resmi https://gapura.ojk.go.id/pendaftaran_ojkpeduli, dengan respon positif dari kalangan mahasiswa dan komunitas keuangan lokal. Melalui langkah ini, OJK berharap dapat memperluas gerakan literasi keuangan yang tidak hanya informatif, tetapi juga partisipatif dan berkelanjutan.

“Literasi keuangan bukan hanya tentang angka dan produk, tapi tentang perilaku. OJK PEDULI menjadi wadah untuk membangun karakter masyarakat yang cerdas, hati-hati, dan mandiri secara finansial,” tutup Muchlasin.


Apakah Anda ingin versi ini saya ubah menjadi rilis resmi OJK (press release format lengkap dengan heading, kutipan formal, dan data capaian literasi nasional) atau versi media publik yang lebih naratif dan ringan dibaca pembaca umum?

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x