

Kabareditorial.com, Gowa — Organisasi non profit, Mahasiswa Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) UIN Alauddin Makassar turut ambil bagian dalam riset kolaboratif nasional bertajuk POSTCHE-GBB (Post-Complex Humanitarian Emergency Gunung Bulu Bawakaraeng) yang berlangsung pada 11–19 April 2026 di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng, Sulawesi Selatan.
Penelitian tersebut dipimpin Dosen Fakultas Syariah IAIN Kendari, Dr. Andi Yaqub, M.H.I., dengan melibatkan 22 peneliti lintas disiplin dari berbagai lembaga. Selain Mapalasta, riset ini juga diikuti peneliti dari IAIN Bone, Yayasan Bumi Toala Indonesia, serta FISS.
Program penelitian tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia dan LPDP melalui skema Mora Air Funds LPDP 2025–2027.
Observasi dan validasi data lapangan dilakukan di kawasan inti Gunung Bulu Bawakaraeng pada ketinggian 1.752 hingga 2.830 meter di atas permukaan laut. Penelitian difokuskan pada empat aspek utama, yakni geomorfologi, ekologi, aktivitas artifisial manusia, dan ekoteologi.
Ketua Tim Riset, Dr. Andi Yaqub, menjelaskan penelitian tersebut bertujuan memetakan kondisi aktual kawasan sekaligus memahami relasi masyarakat dengan lingkungan pegunungan dari sisi ekologis dan spiritual.
“Pada aspek geomorfologi, tim memvalidasi kondisi batuan, retakan lereng, hingga potensi longsor sebagai bagian dari rekam jejak kebencanaan kawasan,” ujarnya.
Selain kajian geomorfologi, tim peneliti juga mendata kondisi vegetasi, sumber mata air, keberadaan spesies yang masih bertahan, hingga aktivitas manusia seperti pembangunan jalur pendakian dan jejak sampah di kawasan gunung.
Dalam kegiatan itu, Mapalasta UIN Alauddin Makassar terlibat langsung dalam proses observasi dan pengumpulan data lapangan bersama tim peneliti lainnya. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung kajian lingkungan dan kemanusiaan di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng.
Mapalasta sendiri merupakan organisasi pecinta alam berbasis Islam yang berdiri sejak 1993 di lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar, yang sebelumnya bernama IAIN Alauddin Makassar. Organisasi ini bergerak dalam bidang kepencintaalaman, lingkungan, pengembangan akademik, hingga pengabdian sosial dan kemanusiaan.
Riset POSTCHE-GBB juga mengangkat dimensi spiritual masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam Gunung Bulu Bawakaraeng. Menurut Dr. Andi Yaqub, pendekatan ekoteologi dalam penelitian tersebut sejalan dengan program prioritas ekoteologi Kementerian Agama RI yang menekankan harmonisasi antara nilai keagamaan dan pelestarian lingkungan.
“Tim merekam berbagai praktik adat, situs sakral, dan aktivitas spiritual masyarakat sebagai bagian dari upaya memahami relasi manusia, alam, dan nilai spiritual dalam proses pemulihan kawasan,” jelasnya.
Seluruh data lapangan dikumpulkan menggunakan instrumen terintegrasi ekoteologi yang mencatat koordinat lokasi, kondisi cuaca, suhu, kelembapan, dokumentasi visual, hingga catatan kualitatif. Jalur observasi juga direkam dalam format digital untuk mendukung penyusunan peta restorasi kawasan secara komprehensif.
Untuk memperkuat analisis, tim menggunakan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment (PEA), yakni metode kajian ekosistem yang mengintegrasikan perspektif ilmiah dengan nilai spiritual serta kearifan lokal masyarakat.
Hasil validasi data lapangan nantinya akan menjadi dasar penyusunan Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF) yang direncanakan dibahas lebih lanjut melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan nasional dan internasional pada Juni 2026 mendatang.
Melalui keterlibatan dalam riset tersebut, Mapalasta berharap penelitian kolaboratif dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan kapasitas mahasiswa dalam isu lingkungan, kemanusiaan, dan pelestarian kawasan secara berkelanjutan.


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar