

Pagi di Desa Bontorannu, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba selalu datang dengan kesederhanaannya sendiri. Kabut tipis turun dari sela pepohonan, suara ayam bersahutan, dan jalan desa perlahan ramai oleh langkah warga yang memulai hari. Dari ruang sederhana inilah, seorang anak kampung menapaki jalannya hingga ke panggung nasional.
Namanya Dr. Akram Ista. Putra pertama pasangan Ismail dan Tanawali itu kini membawa kabar yang membuat kampung halamannya di Desa Bontorannu, Kecamatan Kajang, berbangga.
Ia terpilih mengikuti Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Dosen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila di Semarang, Jawa Tengah, pada 23–27 Februari 2026.
Harapan yang tumbuh dari kampung sederhana
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin sekadar informasi akademik. Namun bagi warga Bontorannu, ini adalah cerita tentang harapan yang tumbuh dari tanah sederhana.
Akram bukan datang dari kota besar dengan akses pendidikan berlimpah. Ia tumbuh di ruang yang akrab dengan kerja keras, kesabaran, dan nilai-nilai hidup yang diajarkan tanpa banyak kata.
Jalan menuju gelar doktor bukan jalan lurus baginya. Ia ditempa oleh keterbatasan, oleh perjalanan panjang yang lebih sering sunyi daripada gemuruh.
Ketika ratusan dosen dari seluruh penjuru negeri mendaftar, hanya sebagian kecil yang lolos seleksi administrasi ketat. Nama Akram muncul di antara mereka yang terpilih. Bagi negara, ia adalah peserta diklat. Bagi kampungnya, ia adalah bukti bahwa pendidikan dapat menembus batas geografis.
Program diklat tersebut bukan sekadar pelatihan formal. Ia adalah ruang perjumpaan antara akademisi dan gagasan besar bangsa. Di sana, para dosen didorong mendalami kembali makna Pancasila, bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai nilai hidup yang harus diterjemahkan dalam ruang kelas, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Materinya mencakup penguatan wawasan kebangsaan, strategi implementasi nilai dalam pembelajaran, hingga cara menghidupkan Pancasila di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat.
Negara, melalui BPIP, bahkan menanggung seluruh pembiayaan peserta transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan operasional, sebuah penegasan bahwa ideologi bangsa bukan sekadar wacana, melainkan investasi masa depan.
Namun bagi Akram, perjalanan ke Semarang bukan hanya soal mengikuti pelatihan. Ia membawa nama kampung, doa orang tua, dan harapan masyarakatnya.
Doktor muda yang membanggakan kampung halaman
Di Bontorannu, kabar itu beredar dari mulut ke mulut. Di warung kopi, di teras rumah, hingga di sela percakapan petani selepas pulang dari ladang.
Mereka tidak membicarakan teori ideologi atau kebijakan pendidikan tinggi. Mereka melihat sesuatu yang lebih sederhana, bahwa anak desa bisa berdiri sejajar dengan akademisi dari kota besar.
Di balik pencapaian itu, ada pesan yang lebih dalam. Bahwa penguatan ideologi bangsa tidak selalu lahir dari ruang konferensi besar. Kadang ia justru tumbuh dari desa-desa kecil, dari keluarga sederhana, dari orang-orang yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan panjang untuk menjaga arah bangsa.
Kelak, sepulang dari diklat, Akram akan kembali ke ruang-ruang kelasnya. Ia mungkin akan mengajar seperti biasa, berdiri di depan mahasiswa, membuka buku, dan menjelaskan materi.
Namun ia pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar sertifikat: jejaring, pengalaman, dan tanggung jawab moral untuk menjadikan Pancasila bukan sekadar teks, tetapi praksis.
Bagi Bontorannu, perjalanan itu belum selesai. Sebab setiap anak desa yang berhasil menembus batasnya, sesungguhnya sedang membuka jalan bagi generasi setelahnya.
Dan di pagi yang kembali sederhana itu, kampung kecil di Kajang tahu mereka tidak lagi sekadar penonton dalam cerita bangsa. Mereka telah ikut menulisnya.


Tidak ada komentar