

Kabareditorial.com, Makassar — Sebaran wilayah operasional menjadi salah satu faktor penting dalam menopang kinerja bisnis PT Pegadaian Kantor Wilayah VI Sulselbar Maluku. Dengan cakupan empat provinsi dan tujuh area bisnis, masing-masing wilayah memiliki karakter ekonomi dan potensi nasabah yang berbeda.
Deputi Bisnis Area Makassar 2 PT Pegadaian Kanwil VI Sulselbar Maluku, Tomy Djoko Tri Rahardjo, mengatakan perbedaan karakteristik wilayah turut menentukan potensi bisnis Pegadaian, baik dari sisi omzet maupun outstanding pembiayaan.
Menurut Tomy, Kanwil VI mencakup wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku yang kemudian terbagi dalam tujuh area bisnis.
“Kalau kita bicara Kanwil VI, kita terdiri dari empat provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Dari wilayah tersebut kita terbagi menjadi tujuh area,” kata Tomy.
Ketujuh area tersebut mencakup Area Makassar 1, Makassar 2, Parepare, Bantaeng, Ambon, Kupang, dan area lainnya dalam cakupan operasional Kanwil VI.
Tomy menjelaskan, setiap area memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap kebutuhan pembiayaan dan produk Pegadaian yang digunakan masyarakat.
“Kalau kita bicara masalah laba, itu pasti terkait dengan omzet yang ada. Dalam evaluasi kami memang ada beberapa area yang karena wilayahnya dan kondisi masyarakatnya sangat mendukung, sehingga outstanding-nya juga besar,” ujarnya.
Dari tujuh area tersebut, Tomy menyebut Makassar 1, Makassar 2, dan Parepare menjadi tiga area dengan kontribusi bisnis yang relatif besar terhadap kinerja Kanwil VI.
Untuk Area Makassar 2, wilayah operasionalnya mencakup sebagian Kota Makassar hingga wilayah Jeneponto. Sementara Area Makassar 1 juga mencakup sebagian wilayah Kota Makassar dan daerah sekitarnya.
“Beberapa area yang menurut kami memiliki kontribusi yang besar, salah satunya Area Makassar 2,” kata Tomy.
Tomy mengatakan besarnya kontribusi sebuah area tidak terlepas dari cakupan wilayah dan karakter ekonomi masyarakat yang dilayani.
Hal tersebut terlihat pada Area Parepare yang memiliki wilayah operasional cukup luas. Area ini mencakup wilayah dari Parepare hingga Mamuju dan Pasangkayu.
“Kalau Area Parepare juga termasuk yang besar kontribusinya karena rentang wilayahnya sangat luas. Mulai dari Parepare sampai ke Mamuju, sampai dengan Pasangkayu,” ujarnya.
Menurut Tomy, keragaman karakter ekonomi menjadi salah satu kekuatan bisnis Pegadaian di wilayah Kanwil VI. Ada daerah yang memiliki basis ekonomi pertanian, perdagangan, hingga pertambangan.
Perbedaan tersebut membuat kebutuhan pembiayaan masyarakat juga tidak seragam. Pegadaian, kata dia, menyesuaikan produk dan layanan dengan karakteristik serta kebutuhan nasabah di masing-masing wilayah.
“Masing-masing wilayah punya karakteristik berbeda-beda. Mungkin ada wilayah pertanian, ada wilayah pertambangan. Kalau pertambangan biasanya, misalnya untuk wilayah Kendari, potensi nasabahnya juga sangat beragam,” katanya.
Keragaman tersebut sekaligus membuka ruang bagi Pegadaian untuk mengembangkan berbagai produk sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing area.
“Produk-produknya juga beragam, disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap nasabah di area tersebut,” ujar Tomy.
Dengan model pengelolaan berbasis area, kinerja Kanwil VI tidak hanya ditopang oleh satu wilayah, tetapi merupakan akumulasi dari kontribusi berbagai daerah dengan karakter ekonomi yang berbeda.


Tidak ada komentar