

Siang terasa terik di Rektorat Universitas Patria Artha (UPA), Jalan Tun Abdul Razak, Gowa, Sabtu (12/09). Di tengah suasana kampus, sejumlah orang tua mahasiswa baru datang setelah menempuh perjalanan panjang dari wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara.
Mereka datang bukan sekadar untuk mengantar anak melanjutkan pendidikan. Ada rasa syukur yang ingin disampaikan secara langsung kepada pihak UPA. Anak-anak mereka dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa baru melalui program beasiswa yang menjadi jalan bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Salah satunya Nuria, orang tua mahasiswa asal Desa Tagul, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Dari kampungnya, perjalanan menuju Makassar tidak singkat.
Nuria menuturkan, perjalanan dari kampungnya menuju Tarakan membutuhkan waktu sekitar lima jam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dari Tarakan menuju Makassar selama tiga hari tiga malam.
“Ohhh jauh pak, kami dari kampung keluar itu ambil mobil, itu kami tempuh minimal 4 jam pak naik speed boat, jalur air. tidak ada jalan lain, lalu sampainya, kami naik mobil, darat, perjalanan lagi ke kota, baru naik kapal ke Mkassar,” Kata Nuria.
Panjang perjalanan itu akhirnya terbayar ketika ia tiba di kampus dan dapat melihat langsung tempat anaknya akan menempuh pendidikan.
Nuria mengetahui kesempatan pendidikan tersebut dari Santoso, aktivis pemuda Kalimantan yang selama ini mengawal program beasiswa bagi anak-anak dari Kalimantan Utara.
“Karena dari Pak Santoso juga Pak, saya tahu dari sini kan, sampai mau anak saya di sini, di Patria Artha,” kata Nuria.
Anak laki-lakinya merupakan anak pertama yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia memilih jurusan kesehatan masyarakat (Kesmas).
Bagi Nuria yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, keputusan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi memiliki alasan sederhana, tetapi penting.
“Supaya ada untuk masa depan,” ujarnya.
Suaminya bekerja sebagai petani. Di tengah keterbatasan itu, kesempatan memperoleh pendidikan melalui beasiswa menjadi sesuatu yang disyukuri. Karena itu, kedatangan Nuria dan orang tua lainnya ke UPA sekaligus menjadi bentuk terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada anak-anak mereka.
Harapan Nuria pun tidak muluk. Ia hanya ingin anaknya dapat menjalani pendidikan dengan baik dan memiliki masa depan yang lebih baik.
“Ya harapannya Azril semoga sukses lah begitu ke depannya kan,” katanya.
Pesan yang sama juga ia tujukan kepada anak-anak muda Kalimantan Utara yang memilih merantau untuk melanjutkan pendidikan.
“Pesannya, ya semoga sukses ke depan lah begitu, buat semuanya kan,” ujar Nuria.
Di balik perjalanan para orang tua tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai akses pendidikan bagi generasi muda di wilayah perbatasan. Santoso melihat kesempatan pendidikan tinggi sebagai bagian penting dari upaya menyiapkan sumber daya manusia dari daerah tersebut.
“Begini, karena juga latar belakang saya anak petani, tentu ini menjadi salah satu atensi saya mengenai sumber daya manusia untuk adik-adik di perbatasan di Provinsi Kalimantan Utara,” kata Santoso.
Ia mengatakan, program beasiswa tersebut telah dikawalnya sejak 2023 dan memasuki tahun ajaran 2024. Program itu, menurut dia, menjadi salah satu upaya membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari daerah perbatasan.
“Karena ke depan Provinsi Kalimantan Utara dari 4 kabupaten dan 1 kota, regenerasi untuk sumber daya manusia untuk mengisi pos-pos, baik dari segi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi, harus dari alumni Universitas Patria Artha, khususnya adik-adik yang ada di perbatasan,” ujarnya.
Untuk memperluas akses informasi mengenai program tersebut, komunikasi juga dibangun dengan organisasi perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pendidikan, agar sosialisasi dapat dilakukan di sekolah-sekolah.
Namun, pada 2026, Santoso memilih turun langsung ke masyarakat. Ia melakukan pendekatan dari rumah ke rumah untuk menemui keluarga yang memiliki anak dan ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Tapi untuk tahun ini, di tahun ajaran tahun 2026, saya door to door. Langsung jemput bola dan datang ke rumah masyarakat berkomunikasi yang ingin anaknya kuliah untuk melanjutkan pendidikan,” katanya.
Menurut Santoso, kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu tantangan. Karena itu, beasiswa dari UPA diharapkan dapat membantu anak-anak yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
Ia juga melihat persoalan sumber daya manusia di wilayah perbatasan masih menjadi pekerjaan besar.
“Kalau menurut hemat saya atau persepsi saya, mengenai sumber daya manusia, khusus yang ada di perbatasan, sangat minim,” ujarnya.
Santoso mengaku sebagai anak Kabupaten Malinau, kondisi tersebut menjadi perhatian baginya. Menurut dia, beasiswa memang telah tersedia, tetapi belum semua anak mendapatkan kesempatan yang sama.
“Nah, tentu ini menjadi salah satu atensi saya. Adik-adik saya harus bisa sukses dan bisa memiliki pendidikan yang layak juga dan bisa bersaing dengan orang-orang yang ada di sekitar. Itu keinginan saya,” katanya.
Program tersebut kini telah memasuki tahun ketiga bagi Santoso dalam membawa rombongan mahasiswa dari Kalimantan Utara, khususnya dari Kabupaten Malinau, Nunukan, dan KTT.
“Dan Alhamdulillah ini tahun ketiga saya untuk membawa rombongan dari Provinsi Kalimantan Utara, khususnya yang ada di Kabupaten Malinau, Nunukan maupun KTT, tidak ada yang balik kanan, Pak. Dan Alhamdulillah sekarang mereka sudah semester masuk ke lima,” ujarnya.
Bagi para orang tua yang datang dari jauh, kesempatan itu bukan sekadar tentang berpindah tempat dari kampung ke kampus. Perjalanan mereka membawa harapan agar anak-anak dari wilayah perbatasan juga memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi dan mempersiapkan masa depan.
Santoso berharap upaya tersebut dapat terus berlanjut. Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara membangun sinergi dan turun langsung ke tengah masyarakat untuk memperluas akses informasi serta perhatian terhadap pendidikan.
“Untuk pesan khusus saya, untuk pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, mari bangun sinergi, mari bangun kerja sama, dan masuk ke masyarakat, ke lingkungan masyarakat, bahkan tingkat terkecil pun yaitu RT, datanglah, sosialisasikanlah,” katanya.
Siang itu, di Rektorat UPA, perjalanan panjang dari perbatasan akhirnya bermuara pada satu hal, rasa syukur orang tua atas kesempatan pendidikan yang terbuka bagi anak mereka.


Tidak ada komentar