

Kabareditorial.com, Polewali Mandar —Matahari berdiri tegak di langit Desa Lenggo. Panasnya menyengat, memantul di permukaan batu dan pasir yang disusun menjadi jalan baru. Namun di tengah terik itu, langkah-langkah tak melambat. Tangan-tangan berseragam loreng dan tangan-tangan warga desa bergerak seirama, seolah memahami bahwa yang mereka bangun hari ini bukan sekadar rabat beton, melainkan harapan.
Di sudut pekerjaan, beberapa personel dari Kodim 1402/Polman tampak mengangkat karung semen bersama warga Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar. Tak ada jarak di antara mereka. Yang ada hanya keringat, tawa, dan semangat yang menyatu.
Sesekali terdengar gurauan ringan di sela suara cangkul dan adukan semen. Di tempat lain, seorang ibu membawa air minum untuk para pekerja, sementara anak-anak berdiri di pinggir jalan, memandangi perubahan yang perlahan terbentuk di depan mata mereka.
Bagi warga, jalan ini bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ia adalah jalan menuju sekolah, pasar, puskesmas, dan masa depan yang lebih mudah dijangkau.
Wakil Komandan Satgas TMMD ke-127, Kapten Inf Ahmad Yani, menyebut bahwa momen kebersamaan seperti inilah yang menjadi inti dari program TMMD.
“Pembangunan fisik memang penting, tapi yang lebih berharga adalah rasa kebersamaan yang tumbuh. Di sinilah kami benar-benar merasa menjadi bagian dari masyarakat,” ujarnya sambil menatap jalur beton yang mulai memanjang.
Di antara warga yang ikut bekerja, Ridwan tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia mengingat bagaimana jalan itu dulu berubah menjadi kubangan saat hujan, membuat warga kesulitan membawa hasil kebun atau sekadar menuju kecamatan.
“Dulu kalau hujan, motor saja susah lewat. Sekarang kami kerja sama dengan bapak-bapak TNI. Rasanya seperti keluarga datang membantu,” katanya, matanya berbinar.
Keterlibatan langsung personel TNI dalam pekerjaan itu menghadirkan suasana berbeda. Tidak ada sekat antara aparat dan warga. Mereka duduk bersama saat istirahat, makan dari wadah yang sama, berbagi cerita tentang keluarga, panen, dan kehidupan desa.
Program TMMD ke-127 di wilayah Kodim 1402/Polman memang dirancang bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan kembali nilai gotong royong. Di medan yang menantang, justru kebersamaan menjadi bahan bakar utama.
Sore perlahan turun di Desa Lenggo. Beton yang masih basah memantulkan cahaya matahari terakhir. Di sana, jejak kaki prajurit dan warga tertinggal berdampingan — tanda bahwa jalan itu dibangun bukan oleh satu pihak, melainkan oleh hati yang bekerja bersama.
Dan bagi warga Desa Lenggo, jalan baru itu bukan sekadar akses. Ia adalah simbol bahwa mereka tak lagi berjalan sendiri.


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar