

Kabareditorial.com, Gorontalo — Inovasi sedotan ramah lingkungan berbahan daun kelapa asal Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berhasil menembus 10 besar ajang Temu Karya Wirausaha pada Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Minggu (21/6/2026).
Inovasi tersebut dipresentasikan oleh Sadaria, Ketua Pemuda Tani Milenial Kabupaten Polewali Mandar sekaligus pendiri PT AGIE Mandar. Perempuan muda asal Desa Sambaliwali, Kecamatan Luyo, itu memanfaatkan limbah daun kelapa menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari sedotan (pipet) ramah lingkungan, lidi kualitas ekspor, hingga aneka produk kerajinan rumah tangga.
Dari peserta yang berasal dari 38 provinsi, hanya tujuh provinsi yang berhasil meloloskan wakilnya ke babak 10 besar. Sulawesi Barat menjadi salah satu daerah yang mencuri perhatian dengan mengirimkan dua wakil terbaiknya, yakni Sadaria dan Zulfihadi, yang keduanya berasal dari Kabupaten Polewali Mandar.
PT AGIE Mandar yang didirikan sejak 2012 awalnya bergerak dalam produksi lidi untuk pasar ekspor ke India dan Pakistan. Hingga kini perusahaan tersebut telah mengekspor sekitar 70 ton lidi. Dalam ajang PENAS XVII, AGIE Mandar menghadirkan inovasi terbaru berupa sedotan ramah lingkungan yang dibuat dari daun kelapa.
Sadaria mengatakan produk tersebut memiliki prospek besar di pasar global seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap isu lingkungan dan penggunaan produk berbasis ekonomi hijau.
“Isu lingkungan saat ini telah menjadi perhatian dunia. Sedotan daun kelapa dapat menjadi alternatif pengganti plastik sekali pakai karena mudah terurai, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Sadaria.
Ia menjelaskan, saat ini penggunaan sedotan daun kelapa mulai diinisiasi di kalangan pelaku UMKM kawasan Pantai Bahari Polewali sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Selain ramah lingkungan, sedotan daun kelapa juga ekonomis dan mudah diproduksi dengan memanfaatkan bahan baku yang melimpah di daerah,” tambahnya.
Presentasi inovasi tersebut mendapat perhatian dari para panelis yang berasal dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Tim AGIE Mandar bahkan mendemonstrasikan secara langsung penggunaan sedotan daun kelapa menggunakan botol air mineral di hadapan dewan juri dan peserta lainnya.
Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar, Muh. Jumadil, memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Sadaria menjadi bukti bahwa sumber daya alam lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Apa yang dilakukan Sadaria membuktikan bahwa Polewali Mandar memiliki potensi besar yang dapat diolah menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Kami berharap generasi muda terus menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara luas,” kata Jumadil.
Ia menambahkan, Polewali Mandar memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri berbasis kelapa. Luas perkebunan kelapa di daerah tersebut mencapai sekitar 17.000 hektare, sehingga ketersediaan bahan baku sangat melimpah.
“Selama ini petani lebih banyak memanfaatkan buah kelapa. Padahal, bagian lain seperti daun dan lidi juga memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan inovasi dan teknologi yang tepat,” ujarnya.
Ajang PENAS XVII turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat Handani Hamdi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Polewali Mandar Mujahidin, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar Muh. Jumadil, Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Ahmad Kilang, serta kontingen Polewali Mandar lainnya.
Pengumuman pemenang Temu Karya Wirausaha PENAS XVII dijadwalkan berlangsung pada puncak acara, 24 Juni 2026, yang rencananya akan dihadiri Presiden Republik Indonesia.
Keberhasilan inovasi sedotan daun kelapa menembus 10 besar nasional menjadi bukti bahwa limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar