

Kabareditorial.com, Jakarta — Industri pembiayaan digital di Indonesia terus berkembang. Hingga Agustus 2026, nilai baki debet layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau beli sekarang bayar nanti yang disalurkan perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,61 triliun. Sementara outstanding pinjaman daring (Pindar) menembus Rp106,94 triliun.
Data tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, dalam kuliah umum bertema “Pembiayaan Digital: Manfaat, Risiko dan Prospek” di Indonesia Banking School (IBS), Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Agusman menyebutkan, pembiayaan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan tumbuh 36,57 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah rekeningnya mencapai 27,71 juta.
Sementara itu, outstanding pembiayaan pinjaman daring meningkat 22,07 persen secara tahunan menjadi Rp106,94 triliun. Jumlah penggunanya mencapai 189,77 juta akun, terdiri atas 3,02 juta pemberi pinjaman (lender) dan 186,75 juta penerima pinjaman (borrower).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan layanan pembiayaan digital di masyarakat. Namun, OJK mengingatkan bahwa peningkatan akses harus berjalan seiring dengan penguatan tata kelola industri dan pelindungan konsumen.
Agusman mengatakan, pembiayaan digital memiliki peran strategis dalam memperluas akses keuangan, terutama bagi masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan konvensional.
“Ketika akses keuangan konvensional sulit menjangkau seluruh lapisan masyarakat, pembiayaan digital hadir untuk memperluas akses keuangan, sepanjang tersedia konektivitas dan infrastruktur digital,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memanfaatkan layanan tersebut. Kemudahan mendapatkan pembiayaan harus disertai kemampuan membayar dan pemahaman terhadap risiko yang mungkin timbul.
OJK juga akan terus memperkuat kebijakan dan pengawasan untuk mendorong industri pembiayaan digital yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan. Sejumlah risiko yang menjadi perhatian antara lain penyalahgunaan data pribadi, penipuan (fraud), serta risiko yang dapat merugikan konsumen.
Ketua Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI), Priyanto Budi Nugroho, mengingatkan bahwa inovasi pembiayaan digital tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan dan keuntungan.
“Di era digital, pemanfaatan inovasi tidak hanya untuk memperoleh pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga harus diimbangi dengan manajemen risiko dan tanggung jawab. Ketiganya merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.
Priyanto mengajak mahasiswa memastikan kemudahan memperoleh pendanaan tidak berujung pada kesulitan keuangan bagi masyarakat maupun investor.
Kuliah umum yang diikuti 137 mahasiswa dan 15 dosen IBS tersebut merupakan bagian dari program OJK Mengajar. Melalui kegiatan ini, OJK mendorong peningkatan literasi keuangan agar masyarakat mampu memanfaatkan pembiayaan digital secara bijak, memahami risikonya, serta memenuhi kewajiban keuangan secara bertanggung jawab.


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar