Layanan Prima yang Menyentuh, Ketika Pelanggan Setia dan Respon Supercepat Veronika

Mardianto
29 Nov 2025 00:45
7 menit membaca

“Pekerjaan kami tidak pernah terikat tempat. Kadang input data harus dilakukan di mobil, di lokasi donor, bahkan saat baru selesai tugas. Jadi layanan yang cepat adalah kebutuhan, bukan cuma kenyamanan,” ujarnya.

Bagi sebagian pelanggan, layanan pelanggan ponsel adalah tempat bertanya soal kuota atau gangguan jaringan. Namun bagi tenaga kesehatan yang bekerja di lapangan, layanan responsif bisa menjadi penyelamat pekerjaan, bahkan penentu kelancaran layanan publik. Itulah pengalaman yang dialami Siti Hardianti, pegawai Unit Transfusi Darah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, yang selama bertahun-tahun setia menggunakan layanan Telkomsel.

Sebagai petugas di Unit Transfusi Darah, Hardianti menjalankan tugas yang sangat dinamis. Ia bisa berada di kantor pada pagi hari, lalu siang sudah berada di lapangan mengoperasikan mobil donor darah.

Di tengah mobilitas tinggi itu, ia harus selalu siap menginput data pendonor ke sistem Simpandora, bank data pendonor yang dikelola kantornya. Tidak ada toleransi keterlambatan, sebab data itu digunakan untuk penanganan medis, ketersediaan darah, dan laporan institusi.

“Pekerjaan kami tidak pernah terikat tempat. Kadang input data harus dilakukan di mobil, di lokasi donor, bahkan saat baru selesai tugas. Jadi layanan yang cepat adalah kebutuhan, bukan cuma kenyamanan,” ujarnya.

Ketika Satu Nomor Tidak Aktif, Pekerjaan Bisa Terhenti

Malam itu, selepas dinas luar melakukan kegiatan donor darah keliling, Siti mulai menginput data pendonor. Semuanya berjalan lancar, kecuali satu hal. Data salah seorang pendonor tidak lengkap. Ia harus menghubungi pendonor tersebut untuk memastikan informasi yang salah.

Namun ketika mencoba menelepon nomor yang ada di formulir, panggilan tak dapat tersambung. Nomornya tidak aktif. Pendonor itu tidak memiliki WhatsApp, sehingga satu-satunya cara hanyalah menghubungi nomor tersebut secara langsung.

“Kami tidak boleh memasukkan data setengah-setengah. Satu data yang salah bisa membuat laporan terganggu,” kata Hardianti.

Dalam situasi seperti itulah, kecepatan layanan sangat berarti. Tanpa menunda waktu, Siti membuka layanan digital asisten Telkomsel, Veronika dan langsung mengetikkan pertanyaan: “Bagaimana cara reaktivasi nomor yang sudah tidak aktif?”

Yang terjadi berikutnya benar-benar membuatnya lega.

“Tidak butuh waktu lama setelah mengikuti instruksi, nomornya langsung aktif kembali. Saya bahkan sempat kaget karena prosesnya benar-benar cepat. Padahal posisi saya saat itu baru saja turun dari mobil layanan, capek, dan butuh cepat menyelesaikan laporan,” tutur Hardianti.

Siti Hardianti tengah mengambil sampel darah dari calon pendonor pada kegiatan donor darah di kawasan Car Free Day, GOR Sudiang Makassar, Minggu (23/11). Usai melakukan uji sampel, data para pendonor langsung diinput untuk pembaruan bank data pendonor. (Foto : Dok. Pribadi Siti Hardianti).

Siti Hardianti tengah mengambil sampel darah dari calon pendonor pada kegiatan donor darah di kawasan Car Free Day, GOR Sudiang Makassar, Minggu (23/11). Usai melakukan uji sampel, data para pendonor langsung diinput untuk pembaruan bank data pendonor. (Foto : Dok. Pribadi Siti Hardianti).

Dengan nomor yang kembali aktif, ia bisa menghubungi pendonor tersebut dan melengkapi data yang dibutuhkan.

Bagi Anti, pengalaman hari itu bukan pertama kali ia terbantu. Veronika sudah menjadi “asisten pribadi” yang selalu ia hubungi saat butuh informasi cepat, mulai dari pengecekan kuota, rekomendasi paket hemat untuk pekerja lapangan, sampai pertanyaan teknis kecil.

“Veronika itu cepat, tidak bertele-tele. Tinggal ikuti langkah-langkahnya, semua kelar,” ucapnya.

Selain Veronika, Hardianti juga beberapa kali memanfaatkan layanan otomatis Telkomsel lain seperti TED, asisten digital 24 jam yang memberi solusi kilat untuk berbagai kebutuhan pelanggan. Layanan tersebut, menurutnya, sangat membantu tenaga kesehatan yang jam kerjanya tidak mengenal hari dan malam.

“Jam kerja kami bisa sewaktu-waktu. Kadang butuh layanan jam 1 pagi saat baru selesai input data. Kalau harus menunggu layanan manual, pasti repot. TED dan Veronika betul-betul membantu,” ungkapnya.

Bagi Siti, Telkomsel telah menunjukkan bahwa layanan pelanggan bisa menjadi bagian penting dari kelancaran tugas kesehatan masyarakat.

“Kalau layanan seperti ini terus konsisten, saya tidak ada alasan untuk pindah ke lain. Karena bukan cuma saya yang terbantu, tapi pekerjaan pelayanan publik juga lebih lancar,” katanya.

Veronika, Komitmen Telkomsel untuk Layanan Super Prima 

GM Customer Care Retention Telkomsel Area Pamasuka, Arief Hidayatus Sefian menegaskan bahwa kehadiran asisten virtual Veronika Telkomsel merupakan bagian dari komitmen Telkomsel untuk terus mendampingi pelanggan tanpa batas waktu. Ia menyebut, dalam dunia yang bergerak cepat, kebutuhan pelanggan tidak selalu datang pada jam kerja.

“Veronika kami hadirkan sebagai teman setia pelanggan selama 24 jam. Jika tiba-tiba ada keluhan saat tengah malam, atau masalah teknis muncul ketika sedang berada di lapangan, veronika ini selalu siap menjawabnya. Tidak perlu menunggu gerai buka atau menunggu pagi tiba. Cukup chat, dan bantuan langsung tersedia dalam hitungan detik,” ujar Arief dalam media update di GraPARI Makassar, Rabu (24/9/2025).

GM Customer Care Retention Telkomsel Area Pamasuka, Arief Hidayatus Sefian memberikan keterangan kepada awak media usai media update di GraPARI Makassar, Rabu (24/9/2025). (Foto : Anto)

GM Customer Care Retention Telkomsel Area Pamasuka, Arief Hidayatus Sefian memberikan keterangan kepada awak media usai media update di GraPARI Makassar, Rabu (24/9/2025). (Foto : Anto)

Arief menggambarkan, banyak pelanggan yang bekerja dalam kondisi dinamis seperti tenaga kesehatan, pekerja mobilitas tinggi, jurnalis lapangan, hingga UMKM yang beroperasi sampai larut malam dan sangat bergantung pada respons cepat layanan digital tersebut.

“Karena itu, Veronika dirancang untuk tidak sekadar menjawab, tapi memberi rasa tenang bahwa selalu ada bantuan yang bisa diandalkan kapan pun pelanggan membutuhkannya,” tambahnya.

Arief menegaskan bahwa layanan digital Telkomsel akan terus dikembangkan agar semakin manusiawi dan responsif.

“Kami ingin setiap pelanggan merasakan bahwa teknologi yang mereka gunakan benar-benar bekerja untuk mereka lebih cepat, lebih mudah, lebih dekat. Itu yang menjadi semangat kami di Telkomsel,” tutupnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin, menyebut bahwa akses jaringan yang stabil dan layanan digital yang responsif merupakan bagian penting dari kelancaran pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Sulsel.

“Saat ini hampir semua layanan kesehatan bertumpu pada sistem digital. Pelaporan data pendonor, ketersediaan stok darah, distribusi obat, sampainya pelacakan program kesehatan, semuanya membutuhkan jaringan yang lancar dan dapat diandalkan,” jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (29/11),

Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan, kerap bekerja di lapangan, seringkali di lokasi yang jauh dari pusat kota dan tidak memiliki waktu untuk menunggu.

“Banyak tenaga kesehatan kita yang bekerja di luar ruangan, bergerak dari satu titik ke titik lain. Mereka harus menginput data secara real time. Kalau jaringan terhambat atau akses nomor tidak bisa dilakukan, pelayanan ikut terhambat. Bahkan keterlambatan kecil saja dapat mengganggu rantai pelayanan,” tambahnya menegaskan.

Ia menambahkan bahwa kecepatan layanan pelanggan provider juga berpengaruh langsung pada efektivitas kerja tenaga kesehatan di lapangan.

“Bayangkan jika data tertunda hanya karena nomor tidak aktif atau jaringan bermasalah. Dampaknya bisa luas. Maka layanan cepat seperti yang diberikan Telkomsel sangat membantu,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan teknologi dapat meningkatkan rasa aman dan daya juang petugas di lapangan.

“Pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya bergantung pada tenaga medis dan peralatan. Kelancaran jaringan, layanan digital yang cepat, dan dukungan teknologi adalah bagian dari pelayanan itu sendiri. Tanpa itu, sistem kesehatan tidak akan berjalan optimal,” tutupnya.

Pengamat layanan kesehatan dari Universitas Muslim Indonesia, Nur Fadriansyah Bur, menilai layanan pelanggan yang responsif dapat menjadi instrumen pendukung sektor kesehatan.

“Tenaga kesehatan punya beban administratif yang besar. Jika layanan telekomunikasi cepat, akurat, dan tidak berbelit, itu mengurangi stres kerja dan mempercepat proses pelayanan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa jaringan yang tidak stabil bukan hanya menghambat komunikasi antara pasien dan tenaga medis, tetapi juga dapat memperlambat proses administrasi, rujukan, hingga koordinasi kesehatan lintas fasilitas.

“Bayangkan seorang warga yang tengah mengalami kondisi darurat, tetapi aksesnya terputus atau tertunda hanya karena jaringan tidak mendukung. Itu bukan sekadar masalah teknis, itu bisa berdampak pada keselamatan nyawa,” tambahnya.

Menurutnya, layanan digital seperti saluran bantuan otomatis, pusat informasi daring, serta layanan pelanggan berbasis artificial intelligence semakin menjadi tumpuan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sektor kesehatan dan penyedia layanan telekomunikasi harus terus diperkuat.

“Keduanya memiliki peran yang saling menopang. Kesehatan membutuhkan konektivitas, dan konektivitas memperoleh nilai kemanusiaannya ketika mampu membantu masyarakat di saat-saat krusial. Pada titik itulah teknologi menjadi benar-benar bermakna,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x