
Ilustrasi Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Paliwang, bersama pakar keuangan negara, Bastian Lubis, dalam sesi pembahasan isu strategis terkait tata kelola dan seleksi jabatan di lingkungan pemerintah provinsi. (Ilustrasi : Anto – Kabareditorial.com)Kabareditorial.com, Kaltara — Lebih dari dua bulan sejak Tim Panitia Seleksi (Pansel) mengumumkan tiga kandidat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Utara pada 1 Oktober 2025 lalu, keputusan final dari Gubernur Kaltara tak kunjung terbit. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai alasan di balik lamanya penetapan pejabat definitif untuk jabatan strategis tersebut.
Pakar Keuangan Negara, Bastian Lubis, menilai bahwa proses seleksi yang dilakukan Pansel sudah berjalan sangat baik. Menurutnya, tiga nama yang diserahkan kepada Gubernur merepresentasikan tiga tipe kepemimpinan berbeda yang umum digunakan dalam manajemen birokrasi.
“Saya berpendapat bahwa hasil yang dikeluarkan oleh Tim Seleksi sangatlah bagus. Tiga calon Sekda yang terpilih sudah mewakili tiga tipe kepemimpinan dalam manajerial,” ujar Bastian Lubis dalam wawancara via telepon, Senin (8/12).
Ia menjelaskan, tiga tipe kepemimpinan yang tercermin dari para kandidat tersebut. Yakni, Kepemimpinan Transformasional, Visioner, komunikatif, mampu memotivasi, membangun kinerja dan produktivitas, serta memiliki kemampuan mengembangkan tim.
”Kedua, ada Kepemimpinan Transaksional. Fokus pada prosedur, efektif dalam pengelolaan proses, tetapi kurang menonjol dalam pengembangan sumber daya manusia,” tambah Rektor Universitas Patria Artha (UPA) itu.
Lanjutnya, ada tipe Kepemimpinan Lapas (Liar, Autokratis, dan Pasif). Tipe kepemimpinan ini tidak memiliki visi yang jelas, tidak terbuka pada masukan, dan cenderung pasif dalam pengambilan keputusan serta pengelolaan tim.
Menurut Bastian, ketiga tipe tersebut tampak jelas dalam profil kandidat yang lolos.
“Ini gambaran akademik saya sebagai praktisi birokrasi. Saya memahami dinamika di Pemprov Kaltara karena pernah menjadi Ketua TGUPP periode 2022–2024. Jadi saya tahu benar karakter dan tipe kepemimpinan yang muncul,” ungkapnya.
Sekda: Jabatan Sekelas “Perdana Menteri Daerah”
Bastian menegaskan bahwa Sekda adalah posisi yang sangat menentukan arah pemerintahan daerah.
“Sekda itu bukan jabatan administratif biasa. Ia diibaratkan seperti ‘Perdana Menteri’ di tingkat daerah. Dialah yang memegang kendali birokrasi dan memengaruhi maju mundurnya daerah ke depan,” jelasnya.
Ia juga menilai penunjukan Komjen Pol (Purn) Drs. Tomsi Tohir sebagai Ketua Pansel adalah langkah tepat dari Gubernur Kaltara.
“Keputusan Gubernur menunjuk Tomsi Tohir sudah sangat tepat. Beliau adalah Sekretaris Kemendagri dan memahami betul proses seleksi pejabat tinggi. Saya percaya tim seleksi ini kompeten dan berintegritas,” kata Bastian.
Mengapa Keputusannya Lama?
Meski proses teknis seleksi sudah selesai, keputusan gubernur dinilai memerlukan banyak pertimbangan tambahan.
“Waktu dua bulan ini cukup lama jika dibandingkan dengan proses seleksi pada umumnya. Biasanya satu sampai dua minggu setelah pengumuman sudah ada keputusan. Artinya ada pertimbangan lain, mungkin nonteknis, seperti kecocokan kerja, kemampuan berkolaborasi, atau faktor loyalitas. Itu semua hanya Gubernur yang mengetahuinya,” ucap Bastian.
Ia menegaskan, publik kini tinggal menunggu ketegasan Gubernur Kaltara dalam menentukan figur yang paling sesuai dengan kebutuhan daerah.
Tipe Kepemimpinan Terbaik untuk Kaltara
Saat ditanya mengenai tipe kepemimpinan paling ideal untuk Kaltara yang memiliki tantangan khusus sebagai daerah perbatasan dan daerah otonomi baru, Bastian menjawab tegas.
“Untuk Kaltara, yang paling cocok adalah kepemimpinan transformasional. Karena daerah ini butuh visi kuat, inspirasi, hubungan kerja yang solid, dan kemampuan meningkatkan produktivitas birokrasi,” jelasnya.
Meski begitu, ia menolak menyebut kandidat tertentu.
“Saya tahu orang-orangnya, tapi saya tidak boleh mengarahkan pada satu nama. Yang jelas, jika bicara kompetensi kepemimpinan, tipe transformasional adalah pilihan terbaik,” tambahnya.
Bastian lantas menutup pendapatnya dengan mengingatkan bahwa penentuan Sekda akan menjadi penentu perjalan pemerintahan kedepannya, apakah akan lebih maju, atau biasa saja atau bahan jadi mundur.
“Tiga tipe kepemimpinan sudah disajikan oleh Pansel. Sekarang kita menunggu, tipe mana yang akan dipilih Gubernur. Keputusan ini akan menjadi penentu perjalanan daerah ke depan,” pungkasnya.


Tidak ada komentar