Angkat Isu Pemulihan Trauma Penyintas Kekerasan Seksual Anak, Tim Mapeddi Healer Universitas Bosowa Lolos PIMNAS ke- Ke-39

Mardianto
19 Okt 2026 10:44
8 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Kepedulian terhadap persoalan kekerasan seksual pada anak mengantarkan mahasiswa Universitas Bosowa (Unibos) menuju panggung ilmiah nasional. Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Mapeddi Healer berhasil lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 2–7 November 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah.

Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi Universitas Bosowa, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperkenalkan penelitian yang berangkat dari persoalan kemanusiaan, khususnya mengenai dampak psikologis kekerasan seksual terhadap anak dan pentingnya memahami proses pemulihan penyintas.

Mengusung penelitian bertajuk “Mapeddi Healer: Menelusuri Resiliensi dan Pappaseng Tellu Riala Sappo pada Survivor Child Sexual Abuse Kota Daeng Menuju Post-Traumatic Growth”, tim ini mengintegrasikan pendekatan psikologi dan kearifan lokal Bugis-Makassar untuk menelusuri kemampuan penyintas dalam menghadapi pengalaman traumatis serta faktor-faktor yang berpotensi mendukung pertumbuhan psikologis pascatrauma.

Tim Mapeddi Healer terdiri atas lima mahasiswa lintas program studi, yakni Ridwan, Salzabilah Irwan, Nur Yuli Andini, dan Nahdah Humairah Nasrun Hamdat dari Program Studi Psikologi, serta Nabilah Alfajira Basri dari Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian yang tidak hanya memandang kekerasan seksual terhadap anak sebagai persoalan individual, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial, nilai budaya, dan lingkungan yang memengaruhi kehidupan penyintas.

Penelitian ini berangkat dari fenomena Child Sexual Abuse (CSA) atau kekerasan seksual terhadap anak yang masih menjadi persoalan serius di berbagai wilayah. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kesehatan psikologis, hubungan sosial, serta kesejahteraan penyintas dalam jangka panjang.

Berdasarkan data yang dihimpun dalam ringkasan penelitian, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat 12.338 kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia pada tahun 2025.

Sementara itu, data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar yang digunakan dalam penelitian menunjukkan terdapat 260 kasus kekerasan seksual terhadap anak sepanjang tahun 2025, meningkat dari 179 kasus pada tahun sebelumnya. Dalam data tersebut, korban didominasi kelompok usia 12 hingga 18 tahun.

Angka tersebut menjadi salah satu latar belakang penting bagi Tim Mapeddi Healer dalam mengembangkan penelitian yang menempatkan pengalaman dan kebutuhan penyintas sebagai pusat perhatian.

Bagi tim, persoalan kekerasan seksual terhadap anak tidak cukup hanya dipahami melalui jumlah kasus maupun proses penanganan hukum. Terdapat dimensi psikologis yang membutuhkan perhatian, terutama mengenai bagaimana penyintas menghadapi dampak pengalaman traumatis dan memperoleh dukungan dalam menjalani proses pemulihan.

Pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara individu memandang diri sendiri, membangun hubungan dengan orang lain, serta menjalankan aktivitas sehari-hari. Dampak tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang berbeda pada setiap penyintas, sehingga pemahaman terhadap kondisi dan kebutuhan masing-masing individu menjadi sangat penting.

Dalam ringkasan penelitian, tim juga menyoroti adanya pengalaman penyintas yang menunjukkan dampak psikologis berkepanjangan setelah peristiwa kekerasan. Temuan awal tersebut menjadi salah satu alasan perlunya kajian yang lebih mendalam mengenai dinamika internal dan faktor-faktor yang dapat mendukung pemulihan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Mapeddi Healer mencoba menghadirkan pendekatan penelitian yang lebih berpusat pada penyintas atau survivor-centered approach.

Pendekatan ini menempatkan pengalaman subjektif penyintas sebagai bagian penting dalam memahami trauma, kemampuan bertahan, serta kemungkinan perkembangan psikologis setelah menghadapi pengalaman yang menyakitkan.

Salah satu konsep utama yang digunakan dalam penelitian adalah resiliensi, yakni kemampuan psikologis individu untuk bertahan, beradaptasi, dan berupaya bangkit ketika menghadapi tekanan atau pengalaman traumatis.

Resiliensi tidak berarti seseorang harus segera pulih atau mampu menghadapi seluruh dampak trauma tanpa bantuan. Sebaliknya, kemampuan tersebut dapat berkembang melalui proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dukungan sosial, kondisi psikologis, serta sumber daya yang tersedia di lingkungan individu.

Melalui konsep tersebut, tim berupaya menelusuri bagaimana penyintas membangun kemampuan untuk menghadapi pengalaman traumatis dan faktor apa saja yang dapat membantu mereka menjalani proses pemulihan.

Penelitian ini juga mengangkat konsep post-traumatic growth (PTG), yaitu kemungkinan terjadinya perubahan psikologis positif setelah seseorang berjuang menghadapi pengalaman yang sangat menekan.

Konsep tersebut tidak dimaksudkan untuk menganggap trauma sebagai pengalaman yang membawa manfaat atau mewajibkan penyintas mengalami pertumbuhan positif. Sebaliknya, PTG menjadi salah satu perspektif ilmiah untuk memahami kemungkinan perubahan dalam cara individu memaknai kehidupan, melihat kemampuan dirinya, maupun membangun hubungan sosial setelah melalui proses menghadapi trauma.

Dalam konteks ini, Tim Mapeddi Healer berupaya memahami hubungan antara resiliensi dan potensi pertumbuhan pascatrauma dengan tetap memperhatikan kompleksitas pengalaman setiap penyintas.

Hal yang menjadi kekhasan penelitian tersebut adalah integrasi pendekatan psikologis dengan nilai Pappaseng Tellu Riala Sappo, salah satu pedoman kehidupan dalam budaya Bugis-Makassar.

Pappaseng Tellu Riala Sappo dikenal sebagai konsep tiga pagar kehidupan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama.

Nilai tersebut menjadi landasan kultural yang ditelusuri oleh tim untuk memahami potensinya sebagai sumber daya dalam menghadapi tekanan psikologis dan membangun dukungan sosial.

Dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, nilai budaya tidak hanya hadir sebagai warisan tradisi, tetapi juga dapat memengaruhi cara individu memahami pengalaman hidup, membangun hubungan sosial, serta menghadapi berbagai persoalan.

Melalui penelitian ini, Tim Mapeddi Healer mencoba melihat bagaimana nilai Pappaseng Tellu Riala Sappo dapat dikaji bersama konsep resiliensi untuk memperluas pemahaman mengenai proses pemulihan penyintas kekerasan seksual terhadap anak.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu unsur kebaruan penelitian, yakni mempertemukan perspektif psikologis dan kultural dengan menempatkan pengalaman penyintas sebagai fokus utama kajian.

Selama ini, sejumlah penelitian mengenai kekerasan seksual terhadap anak lebih banyak menyoroti aspek hukum, perlindungan eksternal, maupun kemampuan individu untuk bertahan. Tim Mapeddi Healer berupaya memperluas perspektif tersebut dengan menelusuri dinamika psikologis dan kemungkinan perkembangan pascatrauma dalam konteks budaya lokal.

Melalui pendekatan lintas disiplin, mahasiswa Psikologi dan Sosiologi Universitas Bosowa mengembangkan kajian yang mempertimbangkan hubungan antara kondisi psikologis individu, pengalaman sosial, serta nilai budaya yang hidup di lingkungan masyarakat.

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan seksual terhadap anak membutuhkan pemahaman yang menyeluruh, termasuk perhatian terhadap hak, keselamatan, kesejahteraan psikologis, dan kebutuhan pemulihan penyintas.

Nama Mapeddi Healer sendiri mencerminkan semangat yang diangkat dalam penelitian. Kata mapeddi berkaitan dengan pengalaman yang menyakitkan, sementara healer merepresentasikan perhatian terhadap proses pemulihan.

Melalui nama tersebut, tim membawa gagasan bahwa pengalaman traumatis tidak boleh membuat kebutuhan penyintas terabaikan. Pemulihan perlu dipahami sebagai proses yang membutuhkan dukungan, penghormatan terhadap pengalaman individu, serta lingkungan yang aman.

Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan tema ketujuh PKM mengenai penguatan kesetaraan gender dan perlindungan hak perempuan, anak, serta penyandang disabilitas.

Selain itu, kajian tersebut relevan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera.

Bagi Universitas Bosowa, keberhasilan Tim Mapeddi Healer lolos ke PIMNAS ke-39 menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan penelitian yang memiliki relevansi dengan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi persoalan, menelaah kajian ilmiah, menyusun pendekatan penelitian, serta menghasilkan gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Keberhasilan tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas bidang keilmuan dalam memahami persoalan masyarakat yang kompleks.

Dalam penelitian Mapeddi Healer, pendekatan psikologi memberikan ruang untuk memahami dinamika internal penyintas, sementara perspektif sosiologi memperluas perhatian terhadap lingkungan sosial dan nilai budaya yang berkaitan dengan pengalaman individu.

Kedua perspektif tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan penelitian yang tidak hanya menyoroti dampak pengalaman traumatis, tetapi juga mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mendukung pemulihan.

Di balik keberhasilan menuju PIMNAS, terdapat proses akademik yang membutuhkan ketekunan, kerja sama, dan komitmen seluruh anggota tim.

Mulai dari mengidentifikasi persoalan, menelaah penelitian terdahulu, merumuskan kebaruan kajian, hingga mengembangkan rancangan penelitian, setiap tahapan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memperkuat kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan mengembangkan kepekaan sosial.

Bagi Ridwan, Salzabilah Irwan, Nur Yuli Andini, Nahdah Humairah Nasrun Hamdat, dan Nabilah Alfajira Basri, keberhasilan melaju ke PIMNAS ke-39 menjadi kesempatan untuk membawa gagasan yang telah mereka kembangkan menuju forum ilmiah tingkat nasional.

Ajang tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan hasil penelitian, memperoleh masukan akademik, serta bertukar perspektif dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Namun, lebih dari sekadar kompetisi, keikutsertaan Tim Mapeddi Healer membawa perhatian terhadap isu yang membutuhkan kepedulian bersama, yakni pentingnya memahami pengalaman penyintas kekerasan seksual terhadap anak dengan pendekatan yang menghormati martabat, keselamatan, dan kebutuhan pemulihan mereka.

Melalui penelitian tersebut, tim berharap gagasan yang dikembangkan dapat memperkaya diskusi akademik mengenai resiliensi, pertumbuhan pascatrauma, serta potensi kearifan lokal sebagai salah satu perspektif dalam memahami proses pemulihan psikologis.

Dari Makassar menuju Semarang, Tim Mapeddi Healer bersiap membawa nama Universitas Bosowa dengan semangat untuk memberikan hasil terbaik pada PIMNAS ke-39 Tahun 2026.

Perjalanan tersebut menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa penelitian mahasiswa dapat tumbuh dari kepedulian terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa Universitas Bosowa lainnya untuk terus mengembangkan kreativitas, memperkuat kemampuan penelitian, serta menghadirkan gagasan ilmiah yang memiliki kepekaan terhadap isu sosial.

Bagi Tim Mapeddi Healer, melangkah ke PIMNAS bukan hanya tentang meraih prestasi, tetapi juga tentang membawa isu perlindungan anak dan pemulihan trauma ke ruang akademik yang lebih luas.

Sebab di balik setiap data dan kajian ilmiah mengenai kekerasan seksual terhadap anak, terdapat kehidupan manusia yang membutuhkan perlindungan, rasa aman, dan kesempatan untuk memperoleh dukungan pemulihan.

Melalui integrasi ilmu psikologi, perspektif sosial, dan nilai Pappaseng Tellu Riala Sappo, Tim Mapeddi Healer Universitas Bosowa berupaya menghadirkan penelitian yang tidak hanya memiliki kedalaman akademik, tetapi juga berpijak pada kepedulian terhadap kemanusiaan.

Dengan semangat tersebut, Tim Mapeddi Healer siap melangkah menuju PIMNAS ke-39 Tahun 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang, membawa harapan agar gagasan yang lahir dari kepedulian terhadap penyintas dapat menjadi bagian dari pengembangan pengetahuan yang lebih peka, inklusif, dan bermakna bagi masyarakat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x