Bosowa Education Gelar Workshop Emotional Wellness for Teachers, Dorong Guru Kelola Emosi dan Bangun Lingkungan Belajar Sehat

Mardianto
21 Sep 2026 13:19
4 menit membaca

Kabareditorial.com, Makassar — Bosowa Education memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan emosional tenaga pendidik melalui Workshop Emotional Wellness for Teachers yang digelar di Ruang Theater, Gedung 2 Lantai 9, Universitas Bosowa, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 14.00 WITA tersebut diikuti 65 peserta dari lingkungan Bosowa School Makassar. Workshop menghadirkan Dr. Nirwana Permatasari, S.Psi., S.H., M.Pd., M.Psi., Psikolog, sebagai pemateri dengan bidang keahlian Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, dan Klinis Anak.

Pelatihan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya membekali guru dalam menghadapi berbagai dinamika profesi, mulai dari keberagaman karakter dan kebutuhan peserta didik, komunikasi dengan orang tua, tuntutan administratif, hingga perubahan dan target institusi.

Berbagai tuntutan tersebut dapat memunculkan tekanan emosional apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, kemampuan mengenali kondisi emosional dan mengatur respons terhadap tekanan dinilai penting untuk mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, positif, dan mendukung perkembangan peserta didik.

Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, Division Head of HR & GA Bosowa Education/Yayasan Aksa Mahmud, Darmawan Dahlan, mengatakan kesejahteraan guru merupakan bagian penting dari keberlanjutan kualitas pendidikan.

“Guru bukan hanya menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi juga menjadi figur yang setiap hari berinteraksi secara langsung dengan peserta didik. Karena itu, perhatian terhadap kondisi emosional dan kesejahteraan guru menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun kualitas pendidikan,” ujar Darmawan.

Menurutnya, pengembangan kompetensi guru tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan pedagogis dan profesional, tetapi juga perlu memperhatikan kemampuan personal dalam menghadapi tekanan dan berbagai situasi di lingkungan kerja.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para guru tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengenali dirinya, memahami emosinya, dan memperoleh strategi yang dapat diterapkan dalam keseharian. Ketika guru memiliki kemampuan regulasi diri yang baik, hal tersebut akan memberikan dampak positif terhadap cara berkomunikasi, mengambil keputusan, dan membangun relasi dengan siswa maupun lingkungan sekolah,” lanjutnya.

Bekali Guru Kemampuan Regulasi Diri

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai emotional wellness, yakni kemampuan mengenali, memahami, menerima, dan mengelola emosi secara sehat.

Kesejahteraan emosional tidak dimaknai sebagai kondisi ketika seseorang harus selalu merasa bahagia atau terbebas dari tekanan. Sebaliknya, kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons situasi secara tepat, menghadapi kesulitan, dan kembali menjalankan peran secara efektif setelah mengalami tekanan.

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah regulasi diri. Kemampuan ini membantu seseorang menyadari kondisi emosional, mengenali pemicu, mengendalikan reaksi impulsif, serta memilih respons yang lebih tenang dan konstruktif.

Bagi guru, kemampuan tersebut memiliki relevansi dalam menghadapi berbagai situasi di sekolah, termasuk menghadapi siswa dengan karakter beragam, menyelesaikan konflik, menerima kritik, membangun komunikasi dengan orang tua, hingga menghadapi perubahan dan tekanan pekerjaan.

Melalui sesi yang dipandu Dr. Nirwana Permatasari, peserta diajak memahami hubungan antara kondisi emosional dengan cara berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan merespons situasi.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai tanda-tanda stres dan kelelahan emosional serta strategi praktis untuk mengelola tekanan. Selain itu, guru diarahkan untuk membangun pola pikir adaptif, menetapkan batasan yang sehat, serta menjaga keseimbangan kehidupan profesional dan personal.

Perkuat Budaya Kerja Sehat

Head of Human Resources Department Yayasan Aksa Mahmud/Bosowa Education, Suardi Usman, S.H., mengatakan pengembangan sumber daya manusia merupakan proses yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Investasi terhadap sumber daya manusia tidak hanya berbicara mengenai peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga bagaimana kita memastikan setiap individu dapat menjalankan perannya dengan kondisi yang sehat secara emosional. Karena itu, kegiatan seperti Emotional Wellness for Teachers menjadi bagian penting dari pengembangan SDM yang berkelanjutan,” ungkap Suardi.

Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan emosional juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang sehat dan suportif di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin membangun lingkungan kerja yang memungkinkan para pendidik untuk terus berkembang, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya sendiri. Guru yang mampu mengenali dan mengelola emosinya akan lebih siap menghadapi dinamika pekerjaan dan memberikan kontribusi terbaik bagi peserta didik,” tambahnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran tim Human Resources Yayasan Aksa Mahmud/Bosowa Education, di antaranya Andi Ummu Kalsum selaku Organization Development Section Head, Tuti Syaima Masita selaku Recruitment & Training Section Head, Novita Ratna Sari Silo selaku Personnel Service HR, Ahmed Imanuddin Holil selaku Recruitment & Training Staff, serta Annisah Desti Reskia selaku Organization Development Staff.

Kehadiran jajaran HR menjadi bagian dari dukungan Bosowa Education terhadap pengembangan kapasitas dan kesejahteraan sumber daya manusia, khususnya para pendidik yang memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.

Melalui Workshop Emotional Wellness for Teachers, Bosowa Education berharap para guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki kesadaran lebih kuat untuk menjaga kesehatan emosional.

Kemampuan regulasi diri yang baik diharapkan membantu guru menjalankan perannya dengan lebih tenang, tangguh, adaptif, dan empatik. Pada akhirnya, hal tersebut diharapkan turut menciptakan lingkungan sekolah yang aman, positif, harmonis, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa upaya membangun pendidikan berkualitas tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan fasilitas, tetapi juga tentang menjaga kualitas manusia yang berada di balik proses pendidikan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x